KEWIRAUSAHAAN KEHUTANAN
“Usaha
Bibit Jabon”
Oleh:
KHT C
XXXXXXXXXXX
L 131 13 194
JURUSAN
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
UNIVERSITAS TADULAKO
2015
PENDAHULUAN
1.
Latar
Belakang.
Kebutuhan kayu untuk pasar global
mengalami kekurangan dimana kebutuhan kayu semakin meningkat tajam dan pada
saat yang bersamaan terjadi proses penyempitan kawasan hutan. Kenyataan ini
telah membuka pasar yang lebar bagi siapapun yang melakukan investasi dibidang
perkayuan. Kawasan hutan tropika mengalami kerusakan yang cukup parah.
Penebangan tanpa diimbangi dengan upaya regenerasi serius menjadi penyebab
utama masalah ini. Menjelang abad yang mendatang, ITTO menggunakan syarat bahwa
kayu-kayu tropika tidak boleh diekspor kecuali kayu tersebut merupakan hasil
pengolahan
Oleh karena itu sangat diperlukan program
pembudidayaan kayu secara komersial untuk menghasilkan kayu bermutu dengan
nilai yang lebih tinggi. Dibandingkan dengan jenis-jenis kayu yang lain, kayu
jabon merupakan jenis kayu yang pertumbuhannya sangat cepat, berbatang
silindris dan lurus, kayunya berwarna putih kekuningan tanpa terlihat serat
yang sangat baik dipergunakan untuk pembuatan kayu lapis maupun kayu gergajian
Budidaya tanam Jabon (Anthocephalus cadamba) ini selain membantu menyediakan bahan
baku industri-industri berbahan dasar baku kayu juga membantu menghijaukan
lahan-lahan. Jabon Sebuah pohon dengan daun-daunan, dengan kanopi yang bisa
besar, itu bisa menyerap CO2 sehingga bisa menyerap gas buang yang akhirnya
membikin bersih udara.
Ketersediaan sumber daya alam dan sumber daya
manusia sangat menentukan keberhasilan penanaman tanaman jabon ini. Dalam penanaman jabon (Anthocephalus
cadamba) ini diperlukan teknologi
yang tepat di wilayah pedesaan guna menyerap banyak tenaga kerja dari
masyarakat sekitar. Pada konsep
penanaman jabon ini melibatkan sejumlah
masyarakat dalam proses penyiapan lahan penanaman, pemupukan, perawatan, dan
pemanenan.
Harga kayu
Jabon (Anthocephalus
cadamba) yang
sangat menguntungkan akan mampu memberikan keuntungan financial bagi pemilik
lahan dan penduduk sekitar perkebunan. Dalam penanaman jabon ini diperlukan teknologi
yang tepat di wilayah pedesaan guna menyerap banyak tenaga kerja dari
masyarakat sekitar. Pada konsep
penanaman jabon (Anthocephalus cadamba) ini melibatkan sejumlah masyarakat dalam proses penyiapan
lahan penanaman, pemupukan, perawatan, dan pemanenan. Selain sumber daya manusia yang dilibatkan, sektor lain yang
terkait dengan kegiatan ini adalah sektor transportasi, misalnya truk pengangkut
bibit, pupuk, dan kayu hasil panen. Hal
ini membuka peluang kerja baru bagi masyarakat dan hal ini diharapkan secara
bertahap mampu meningkatkan pendapatan masyarakat di sekitar area penanaman
tanaman jabon (Anthocephalus
cadamba).
PEMBAHASAN
1.
Profil Perusahaan
a.
Produk Usaha
Pada rencana usaha
yang dibuat ini rencananya produk yang akan di jual ke pasar yaitu berupa bibit
jabon (Anthocephalus cadamba) yang
unggul. Di sini dijelaskan secara umum keunggulan bibit yang nanti akan kami
jual yaitu bibit setelah 6 bulan tinggi sekitar 70-125 cm dengan harga
terjangkau oleh para petani.
Keunggulan lain
dari bibit jabon (Anthocephalus cadamba)
dari pembibitan yang kami kelola yaitu bibit lurus, bebas dari hama dan
penyakit dan subur, dengan memberi bibit label dengan tulisan bibit unggul, ini
juga merupakan suatu usaha kami buat mengungguli pesaing yang menjual bibit
jabon (Anthocephalus cadamba) juga.
b.
Nama Usaha
Usaha ini kami beri
nama “Bibit Hebat Jabon” Mengapa kami memilih usaha pembibitan tanaman jabon (Anthocephalus cadamba), karena kami
melihat potensi usaha ini cukup bagus, sebab kebutuhan akan bibit jabon (Anthocephalus cadamba) cukup tinggi
karena kebutuhan akan kayu jabon (Anthocephalus
cadamba) juga meningkat dikarenakan kayu jabon cepat besar rata-rata pada
umur 5 tahun sudah bisa di panen.
c.
Lokasi Usaha
Usaha pembibitan
tanaman sengon ini berlokasi di Jln. P. Nias Kel. Kayamanya. Poso Kota. Alasan
memilih lokasi tersebut lumayan strategis dalam melakukan pembibitan tidak
hanya itu lokasi tersebut adalah rumah penggagas usaha ini.
d.
Tujuan
Adapun tujuan yang
ingin dicapai dalam usaha ini adalah menciptakan usaha kecil menengah yang
efektif dan efisien dalam rangka meningkatkan perekonomian di bidang kehutanan.
Memperkenalkan bibit unggul baru tanaman jabon, kepada masyarakat umum.
e.


Denah
Usaha.
Denah
Usaha.
|
|
||||||
|
|||||||
|
|
|
Gambar . Denah bangunan usaha
dengan luas setengah hektar (1/2 ha).
Keterangan :
A = Areal Penyemaian Biji
B = Areal Penyapihan
Bibit
C =
Penyimpanan Benih
D = Kantor Usaha
f. Proyeksi pasar
Arah pertama dari model lingkungan bisnis adalah aspek
pasar. Pengkajian aspek pasar penting dilakukan karena tidak ada bisnis yang
berhasil tanpa adanya permintaan barang/jasa yang dihasilkan bisnis tersebut.
Oleh karena itu, Saya melakukan survei kecil untuk melihat potensi dari usaha
ini.
Dari hasil survei kecil yang kami lakukan di sekitar
lokasi usaha yang rencananya akan dijalankan, menunjukan sekitar 50 % permintaan
akan bibit jabon(Anthocephalus cadamba).
Jadi dapat disimpulkan bahwa besarnya pasar usaha pembibitan jabon (Anthocephalus cadamba) ini adalah ±50%
itu.
g. Aspek Manajemen Usaha
Usaha pembibitan tanaman jabon (Anthocephalus cadamba) ini
di kelola mandiri dengan sistem modal juga mandiri.
2.
Rencana Pemasaran dan Promosi
1.
Pemasaran
a.
Target Pembeli
Sasaran yang
akan dibidik secara langsung adalah para petani, kelompok, dan pengusaha bibit
tanaman hutan kelas menegah yang beraktivitas disekitaran lokasi usaha dan
sekitarnya. Alasan pemilihan ini adalah karena Petani dan pengusaha bibit
tanaman hutan kelas menengah merupakan konsumen paling potensial bagi usaha
ini.
b.
Target penjualan
Dalam usaha
pembibitan tanaman jabon (Anthocephalus
cadamba) ini saya mencoba mentargetkan penjualan bibit bisa terlaksana pada
bulan ke-6 setelah penyemaian biji, dengan perkiraan bibit yang siap jual pada
bulan ke-6 sekitar 6000 bibit.
2.
Promosi
Upaya-upaya yang
dilakukan untuk mempromosikan usaha pembibitan tanaman jabon (Anthocephalus cadamba) ini yaitu melalui pembuatan leaflet, media
massa serta dari mulut ke mulut artinya dari konsumen memberitahu ke konsumen
yang lain.
3.
Aspek pembiayaan
a.
Rencana biaya usaha
Pada kegiatan usaha
ini pada bulan pertama/diawal usaha dimulai biaya yang dibutuhkan sebesar Rp.15.000.000,
untuk biaya produksi dan peralatan, dan biaya bahan serta perlengkapan, untuk detailnya
bisa dilihat pada rincian biaya yang terlampir.
Rincian biaya
usaha
|
No.
|
Uraian
|
Biaya
|
Keterangan
|
|
|
Debit
|
Kredit
|
|||
|
1.
|
Modal Awal
|
|
Rp.15.000.000
|
|
|
2.
|
Peralatan
|
Rp.600.000
|
|
|
|
3.
|
Penyediaan air
|
Rp.1.000.000
|
|
|
|
4.
|
Pupuk dan kompos
|
Rp.1.000.000
|
|
|
|
5.
|
Benih Jabon
|
Rp 600.000
|
|
|
|
6.
|
Pembelian polibag
|
Rp.1.200.000
|
|
|
|
7.
|
Obat dan
Pestisida
|
Rp. 600.000
|
|
|
|
8.
|
Pembangunan
|
Rp 10.000.000
|
|
|
|
|
Total
|
Rp.15.000.000
|
Rp.15.000.000
|
|
b.
Pendapatan dan Laba
Usaha
1.
Pendapatan
Pendapatan = Harga jual x Jumlah Bibit
= Rp. 1.500 x 12000
= Rp. 18.000.000,-/tahun
2.
Keuntungan = Pendapatan – Biaya
Keuntungan = Rp.18.000.000 – Rp.15.00.000
= Rp 3.000.000,-/tahun
4.
Proses Pembibitan Benih Jabon (Anthocephalus
cadamba)
a.
Pengecambahan benih
1.
Sediakan media
tempat kecambah (bak plastik) dan sungkup dari plastik
2.
Media perkecambahan
adalah :
Campuran pasir halus dan tanah
halus (1:1), disterilisasi dengan cara digoreng selama 2 jam. Untuk mendapatkan
media pasir halus, pasir di ayak dengan ayakan berukuran mikro (ayakan nyamuk).
Paling baik adalah tanah lumpur sawah, dibiji jabon dapat langsung di semai
3.
Sebelum benih
ditabur, media disiram sampai jenuh. Bila perlu bak tabur ditutup dengan
plastik transparan (sungkup).
4.
Penaburan benih
dapat dicampur dengan pasir halus agar penyebaran dalam bak kecambah merata
telah disterilisasi dengan cara digoreng selama 2 jam. Perbandingan benih
dengan pasir 2 : 1.
5.
Biasanya benih
mulai berkecambah setelah 7-15 hari setelah penaburan dan akan mulai merata
setelah 30 hari.
6.
Dalam satu bak
kecambah ukuran 25 cm x 20 cm banyak biji yang ditabur cukup 1 sendok teh.
b.
Pemeliharaan pada
periode perkecambahan
1.
Pemeliharaannya
dilakukan dengan penyiraman. Setelah penyiraman pertama, penyiraman selanjutnya
dilakukan setiap harinya (pagi dan sore) sampai minggu ke-10 / bibit siap sapih
ke polybag dengan ukuran bibit 5-10 cm.
2.
Penyiraman
menggunakan air biasa untuk setiap harinya dan menggunakan air biasa dicampur
dengan fungisida DITHANE M-45 untuk setiap minggunya (1kali dalam semingggu).
Untuk 1 liter air dicampur fungisida ¼
sendok Dithane M-45.
3.
Media kecambah
harus terkena cahaya matahari tetapi tidak secara langsung usahakan di perlu
naungan dari plastik / sungkup / rumah kaca. Kondisi media kecambah harus lembab dan basah jangan
sampai kekeringan.
4.
Selanjutnya bibit
dipindahkan ke polybag di persemaian.
5.
Total waktu
perkecambahan kurang lebih 1 bulan, total pemeliharaan setelah muncul kecambah
1,5 bulan hingga siap sapih. Jadi total waktu yang dibutuhkan untuk
perkecambahan kurang lebih 2-3 bulan.
6.
Bibit yang sudah
dipindahkan ke polybag sangat cepat perkembangannya. 1 bulan bisa mencapai
ukuran tinggi = 20-40 cm.
c.
Penyapihan di
persemaian
Penyapihan
adalah pemindahan tanaman dari bak kecambah ke polybag. Kemudian polybag di
tempatkan pada bedengan berukuran 5 m x 1 m yang ternaungi agar terlindung dari
sinar matahari langsung dan hujan selama 1 bulan pertama.
1.
Penyapihan
dilakukan ketika kecambah telah memiliki 2-3 pasang daun atau telah mencapai
tinggi 2-3 cm (usia 1,5-2 bulan).
2.
Media sapih yang
digunakan harus mengandung banyak nutrisi untuk pertumbuhan tanaman yang
kemudian ditempatkan dalam polybag, Pindahkan bibit sosisan ke Polibag ( basahi
terlebih dahulu, baik polibag sosis maupun polibag besar untuk memudahkan
pemindahan)
3.
Media semai yang
dipergunakan : ukuran polybag 10×15 cm.
4.
Media bibit adalah
:
·
Media campuran
pasir + tanah+ arang sekam (1:3:1) atau tanah + kompos (3:1).
·
Media campuran
tanah (topsoil/permukaan), pasir dan pupuk kandang (7:2:1)
d.
Pemeliharaan di
bedeng sapih
1.
Penyiraman secara
rutin setiap hari menggunakan air biasa dan setiap minggu menggunakan air biasa
dicampur dengan fungisida DITHANE M-45
2.
Selain penyiraman
dapat juga diberikan pemupukan yang dilakukan setelah bibit berumur 2 minggu
dengan pupuk NPK cair atau yang dicairkan (2-4gram/1liter air), ( usahakan
tidak disemprotkan, langsung siram ke media tanam) dengan jarak 3-5 cm dari batang.
3.
Selain itu dapat
diberikan pupuk daun 2 minggu sekali dengan pupuk , Gandasil-D, atau Suplemen
pupuk daun dengan dosis 3 gram / 1 liter air ( semprotkan)
4.
POC, dosis 4 ml / 1
liter air ( semprotkan / disiram/ kocor) .
5.
Antara pupuk daun
dan POC bisa dilakukan bergantian setiap 2 minggu)
e.
Pemberian penaungan
tanaman dengan paranet dilakukan hingga bibit berumur ±4-5 bulan setelah
penyapihan (tinggi ±30 cm). Ukuran paranet 30%, 40% ,50% atau 65%.
f.
Pencegahan /
Penanganan Hama dan Penyakit : ( dilakukan jika ditemukan gejala)
·
Belalang / Ulat :
Insektisida, dgan Dimetoat atau
Sipermetrin, dosis 3 ml / 1 ltr air
·
Jamur / Cendawan :
FUNGISIDA, berbahan aktif Mancozeb, dosis 3 gr / 1 liter air
5.
Hama Dan Penyakit.
Persemaian Hama dan Penyakit.
·
Semut. Bagian
diserang : biji, lembaga, akar bibit.
Cara mengatasi:
kaki bak kecambah direndam air
·
Rayap, rengas,
rinyuh. Bagian diserang : akar, batang, bibit.
Cara mengatasi:
bersihkan bedeng dari sisa-sisa kayu
·
Siput, keong,
bekicot. Bagian diserang : batang, daun.
Cara mengatasi:
bersihkan bedeng dari rumput
·
Jamur/Cendawa.
Bagian diserang : akar
Cara
mengatasi: pengggunaan fungisida
·
Belalang/Ulat.
Bagian diserang : daun
Cara
mengatasi: Penggunaan Insektisida
·
Kecambah tumbang
dan mati.
Cara mengatasi : drainase harus baik, misal dicampur pasir. Beri naungan
dan sterilisasi tanah persemaian dengan fungisida. Cabut tanaman yang terkena.
Usahakan mendapat cukup sinar matahari
KESIMPULAN
Jabon merupakan
salah satu jenis tumbuhan lokal Indonesia yang berpotensi baik untuk
dikembangkan dalam pembangunan hutan tanaman maupun untuk tujuan lainnya,
seperti penghijauan, reklamasi lahan bekas tambang, dan pohon peneduh. Beberapa
kelebihan tanaman jabon dibandingkan dengan tanaman jenis lain antara lain:
teknik budi dayanya mudah; sebarannya luas; bernilai ekonomi tinggi, dan
memiliki manfaat lainnya dari produk non-kayunya, fungsi estetika, ekologis,
maupun sosialnya.
Keuntungan yang diperoleh dari usaha ini sebesar Rp.18.000.000,- pertahun jika bibit yang
terjual sebesar 12000 bibit seharga Rp. 1.500,- . dan dalam setahun dapat
mengembalikan modal awal usaha.
No comments:
Post a Comment