I.
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan adalah kesatuan ekosistem
berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan
dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat
dipisahkan
Ekologi hutan adalah cabang dari
ekologi yang khusus mempelajari ekosistem hutan. Hutan dipandang sebagai suatu
ekosistem karena hubungan antara masyarakat tumbuh-tumbuhan pembentuk hutan
dengan binatang liar dan alam lingkungannya sangat erat. Hutan dipandang
sebagai suatu ekosistem adalah sangat tepat, mengingat hutan itu dibentuk atau
disusun oleh banyak komponen yang masing-masing komponen tidak bisa berdiri
sendiri, tidak bisa dipisah-pisahkan, bahkan saling memengaruhi dan saling
bergantung.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari
pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik
dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan
topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari
manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan
tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan
ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan
kesatuan.
Kecamatan Labuan sebagai bagian dari
wilayah Kabupaten Donggala yang memiliki berbagai sumber daya alam yang besar
salah satunya berupa tegakan pohon penghasiln kayu. Berdasarkan sumber daya
alam yang ada, setiap sumber daya alam di tiap-tiap daerah memiliki potensi
nilai yang berbeda untuk mengelolah sumber daya alam di tiap daerah.
Dalam rangka mengetahui nilai sumber
daya alam di daerah, maka sangatlah tepat untuk melakukan identifikasi indeks
nilai sumber daya alam di daerah Labuan. Studi ini dilakukan untuk mengetahui
dan memahami potensi suatu tegakan hutan di desa Labuan Kunguma
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum yang di lakukan di desa Labuan Kunguma tentang Ekologi
Hutan adalah agar mahasiswa dapat mengetahui
cara
mengukur atau menaksir potensi dari suatu tegakan hutan meliputi Kerapatan
Relatif, Frekuensi Relatif, Dominasi Relatif, dan Indeksi Nilai Peting dalam
setiap vegetasi.
Kegunaan yang
diharapkan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat menambah wawasan sekaligus memahami tata
cara pembuatan petak ukur, penentuan arah jalur, penentuan jarak antar jalur
dan pengukuran parameter pohon
dalam hal pengelolaan sumber daya hutan.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1 Pengertian Ekologi Hutan
Ekologi hutan adalah cabang ekologi
yang khusus mempelajari masyarakat atau ekosistem hutan. Hutan dapat
dipelajaridari segi autekologi dan synekologi. Autekologi mempelajari ekologi
suatu jenis pohon atau pengaruh sesuatu faktor lingkungan terhadap hidup atau
tumuhnya satu atau lebih jenis-jenis pohon. Sifat penyelidikanya mendekati
fisiologi tumbuh-tumbuhan. Synekologi mempelajari hutan sebagai masyarakat atau
ekositem misalnya penelitian tentang pengaruh keadaan tempat tmbuh terhadap
komposisi dan produksi hutan. (Soemarwoto, Otto. 1997)
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari
interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari
kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi
diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup
maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita
mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
2.2 Kaitan Ekologi dan Ekosistem
Pembahasan ekologi tidak lepas dari
pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik
dan biotik. Faktor biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan
topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari
manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan
tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan
ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan
kesatuan.
Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan
lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botani yang menggambarkan hal
bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan ekonomi energi yang menggambarkan
kebanyakan rantai makanan manusia dan tingkat tropik.
Ekowilayah bumi dan riset perubahan
iklim ialah dua wilayah di mana ekologi (orang yang mempelajari ekologi) kini berfokus.
Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik
antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu
tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup
yang saling mempengaruhi.
Kedua komponen tersebut berada pada
suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Misalnya,
pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan, tumbuhan air,
plankton yang terapung di air sebagai komponen biotik, sedangkan yang termasuk
komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut
dalam air.
Perhitungan INP suatu tegakan yaitu
dengan cara menjumlahkan nilai kerapatan relatif, nilai frekuensi relatif dan
dominasi relatif, yang masing-masing nilai dinyatakaan dalam bentuk persen.
Data yang
telah diperoleh dari kegiatan pengukuran dilapangan kemudian diolah dengan
menggunakan formulasi metode garis berpetak untuk menghitung besarnya kerapatan
( individu/ha), frekuensi dan dominasi ( m2/ha ) dan indeks nilai penting (INP)
dari masing-masing jenis.
2.3 Analisis
Vegetasi Hutan
Analisis vegetasi hutan merupakan
studi untuk mengetahui komposisi dan struktur hutan. Kegiatan analisis vegetasi
pada dasarnya ada dua macam metode dengan petak dan tanpa petak. Salah satu
metode dengan petak yang banyak digunakan adalah kombinasi antara metode jalur
(untuk risalah pohon) dengan metode garis petak (untuk risalah permudaan)
(Latifah, 2005).
Hal yang demikian
itu menyebabkan kelimpahan relatif suatu spesies
dapat mempengaruhi fungsi suatu komunitas,
distribusi individu antarspesies dalam komunitas,
bahkan dapat memberikan pengaruh pada
keseimbangan sistem dan akhirnya akan berpengaruh pada stabilitas
komunitas (Bakri, 2009).
Struktur komunitas tumbuhan
memiliki sifat kualitatif dan kuantitatif. Dengan demikian,
dalam deskripsi struktur komunitas tumbuhan dapat
dilakukan secara kualitatif dengan parameter
kualitatif atau secara kuantitatif dengan parameter kuantitatif.
Namun persoalan yang sangat penting dalam analisis komunitas adalah bagaimana
cara mendapatkan data terutama data kuantitatif dari semua
spesies tumbuhan yang menyusun komunitas,
parameter kuantitatif dan kualitatif apa saja yang
diperlukan, penyajian data, dan interpretasi data, agar dapat
mengemukakan komposisi floristik serta sifat-sifat komunitas tumbuhan
secara utuh dan menyeluruh.
Dalam kegiatan-kegiatan penelitian
di bidang ekologi hutan seperti halnya pada bidang-bidang ilmu lainnya yang
beersangkut paut dengan sumber daya alam dikenal dua jenis/tipe pengukuran
untuk mendapatkan informasi/data yang diinginkan. Kedua jenis pengukuran
tersebut adalah pengukuran yang bersifat merusak (destruktive measure) dan
pengukuran yang tidak merusak (non destructive measure). Untuk keperluan
penelitian agar hasil datanya dapat dianggap sah (valid) secara statistika,
penggunaan kedua jenis pengukuran tersebut mutlak harus menggunakan satuan
contoh (sampling unit), apabila bagi seorang peneliti yang mengambil objek
hutan dengan cakupan areal yang luas. Dengan sampling seorang peneliti/surveyor
dapat memperoleh informasi/data yang diinginkan lebih cepat dan lebih teliti
dengan biaya dan tenaga lebih sedikit bila dibandingkan dengan inventarisasi
penuh (metode sensus) pada anggota suatu populasi (Latifah, 2005)
III.
METODE PRAKTEK
3.1 Waktu dan Tempat.
Waktu pelaksanaan praktikum ini pada
hari Minggu,
26 April 2015 pada pukul 09.00 sampai selesai. Berlokasi di desa Labuan Kunguma, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah, Palu.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang di
gunakan pada praktikum Ekologi Hutan ini, yaitu:
1.
Meteran Roll
2.
Pita Ukur
3.
Alat tulis menulis.
4.
Kalkulator
5.
Kamera
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Tali rafia
2. Tally Sheet
3. Patok kayu
3.3
Cara Kerja
Pertama-tama
memilih lokasi. Kemudian membuat plot dan membagi menjadi 4 plot dengan luasan
20 m x 20 m untuk pohon, selanjutnya
membuat sub plot dengan luasan 10 m x 10 m untuk tiang, 5 m x 5 m untuk pancang,
dan 2 m x 2 m untuk semai. Setelah itu mengindentifikasi Tegakan, mengukur
keliling pohon, menghitung diameter pohon dan luas bidang dasar.
3.4 Penentuan Plot
Untuk mengetahui jenis vegetasi tingkat pohon,
tiang, pancang dan semai plot pengamatan diletakan di lokasi praktikum di hutan
rakyat Desa Labuan Kungguma dengan menggunakan metode petak ganda, jumlah petak
pengamatan sebanyak 4 plot, karena tidak menutup kemungkinan di mana akan
ditemukan jenis vegetasi.
|
b
b
b
|
|
c
c
|
|
d
|
Gambar: Plot pengamatan
Keterangan :
a. Plot pengamatan
tingkat pohon (20 mx20 m)
b. Plot pengamatan
tingkat tiang ( 10 mx10 m)
c. Plot pengamatan
tingkat pancang ( 5 mx5 m)
d. Plot pengamata
tingkat semai ( 2mx2 m)
3.5 Analisis
Data
Berdasarkan
data lapangan yang telah dikumpulkan, maka dilakukan perhitungan Indeks Nilai Penting ( INP ) dengan rumus sebagai berikut :
a) Kerapatan (K) = Jumlah Individu Suatu Jenis
Luas
Seluruh Petak Contoh
b) Kerapatan relatif (KR) = Kerapatan Suatu Jenis x 100 %
Kerapatan Seluruh Jenis
c) Frekuensi (F) = Jumlah petak contoh di temukan suatu jenis
Jumlah seluruh petak contoh
d) Frekuensi Relatif (FR) = Frekuensi Suatu Jenis x
100 %
Jumlah Seluruh Frekuensi Suatu Jenis
e)
Luas Bidang datar = ¼ .π. d2
f)
Dominasi (D) = Luas Bidang Datar
Suatu Jenis
Luas Seluruh Petak Contoh
g)
Dominasi Relatif
(DR) = Dominasi Suatu Jenis x 100 %
Dominasi Seluruh
Jenis
Dimana : Untuk
tingkat pohon dan tiang, INP = KR+ FR+DR
Untuk pancang dan semai INP = KR + FR
Keterangan
:
INP =
Indeks Nilai Penting
KR = Kerapatan Relatif
FR = Frekuensi
Relatif
DR =
Dominasi Relatif
IV.
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Berdasarkan
praktikum yang telah dilaksanakan, maka diperoleh hasil perhitungan parameter pohon
hutan produksi Desa labuan
kunguma petak ukur
(plot) dengan ukuran 20 m x 20 m seperti yang disajikan dalam tabel berikut
ini.
Tabel
1. Komposisi jenis vegetasi di Hutan Produksi desa Labuan Kunguma.
|
No
|
Nama Jenis Vegetasi
|
Pohon
|
Tiang
|
Pancang
|
Semai
|
Jumlah
|
|
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
|
Pohon
1
Pohon
2
Pohon
3
Tiang
1
Tiang
2
Tiang
3
Tiang
4
Pancang
1
Pancang
2
Pancang
3
Pancang
4
Semai
1
Semai
2
Semai
3
Semai
4
|
ü
ü
ü
|
ü
ü
ü
ü
|
ü
ü
ü
ü
|
ü
ü
ü
ü
|
1
3
2
3
3
2
2
2
2
4
1
2
3
4
2
|
|
|
TOTAL
|
|
|
|
|
36
|
Tabel 2. Kerapatan
Relatif, Frekuensi Relatif, Dominansi Relatif, serta INP Vegetasi pada tingkat Pohon di
Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma.
Pada tabel 1 terlihat bahwa jenis
vegetasi untuk tingkat pohon di Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma memiliki
Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah Pohon
2 dengan nilai INP sebesar = 52,98 %
Tabel 3. Kerapatan
Relatif, Frekuensi Relatif, Dominansi Relatif, serta INP Vegetasi pada tingkat Tiang di Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma.
Pada
tabel 2 terlihat bahwa jenis vegetasi untuk
tingkat tiang
di
Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi
adalah Tiang
2
dengan
nilai INP sebesar = 47,19 %
Tabel 4. Kerapatan
Relatif, Frekuensi Relatif, serta INP Vegetasi
pada tingkat Pancang di Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma.
Pada
tabel 3 terlihat bahwa jenis vegetasi untuk
tingkat pancang
di
Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma memiliki Indeks Nilai Penting (INP)
tertinggi adalah Pancang 3 dengan
nilai INP sebesar = 50,05
%
Tabel 5. Kerapatan
Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR), serta INP Vegetasi pada tingkat Semai di
Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma.
|
No
|
Nama Jenis
|
Jumlah Jenis
|
K
|
Kr %
|
F
|
Fr %
|
INP
|
|
1
|
Semai 1
|
2
|
50
|
8,00
|
0,5
|
11,76
|
19,76
|
|
2
|
Semai 2
|
3
|
75
|
12,00
|
0,75
|
17,65
|
29,65
|
|
3
|
Semai 3
|
4
|
100
|
16,00
|
1
|
23,53
|
39,53
|
|
4
|
Semai 4
|
2
|
50
|
8,00
|
0,5
|
11,76
|
19,76
|
Pada
tabel 4 terlihat bahwa jenis vegetasi untuk
tingkat semai
di hutan produksi Desa
Labuan Kungguma yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP)
tertinggi adalah Semai 3 dengan nilai INP
sebesar = 39,53 %.
4.2 Pembahasan
Mempelajari ekologi hutan merupakan
kegiatan manusia secara menyeluruh dengan tujuan mengarahkan atau memelihara
ekosistem hutan dalam keadaan yang memungkinkan untuk selalu bisa dijadikan
sebagai sumber pemenuhan kebutuhan manusia sepanjang masa. Mengingat hutan
merupakan suatu ekosistem, dan setiap ekosistem apa pun dibentuk oleh banyak
komponen baik komponen hayati maupun komponen nonhayati, maka semua informasi
tentang masing masing komponen sangat penting, dan untuk itu diperlukan bidang
ilmu yang relevan terhadap kajian komponen ekosistem.
Kegiatan
analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam metode dengan petak dan tanpa
petak. Salah satu metode dengan petak yang banyak digunakan adalah kombinasi antara
metode jalur (untuk risalah pohon) dengan metode garis petak (untuk risalah
permudaan)
Kawasan hutan Desa labuan kunguma merupakan kawasan hutan alam yang wilayahnya cukup luas, oleh karena itu
diperlukan suatu pengukuran indeks nilai penting ( INP ) dalam
hal ini pada tegakan pohon dengan plot seluas 400
m2. Pada kawasan hutan desa
Labuan kunguma, khususnya yang terdapat
pada plot kelompok kami, terdapat 36 vegetasi dan 16 jenis vegetasi
masing-masing terdiri dari 3 jenis pohon, 4 jenis tiang, 4 jenis pancang, dan 4
jenis semai.
Berdasarkan
hasil pengamatan vegetasi pohon pada plot 20 m x 20 m terdapat 6 vegetasi pohon
dan 3 jenis pohon. Pada pohon 1 berjumlah hanya 1 tegakan dengan diameter 33,44
cm dan INP sebesar 31,49 %. Pada pohon 2 berjumlah 3 tegakan dengan diameter
30,25 cm dan INP sebesar 52,98 %. Pada pohon 3 berjumlah 2 tegakan dengan
diameter 25,48 cm dan INP sebesar 38,47 %. Dengan demikian nilai INP yang
tertinggi untuk tingkat pohon terdapat pada pohon 2 dengan INP sebesar 52,98 %.
Berdasarkan
hasil pengamatan vegetasi pohon pada plot 10 m x 10 m terdapat 10 vegetasi
tiang dan 4 jenis tiang. Pada Tiang 1 berjumlah 3 tegakan dengan diameter 14,33
cm dan INP sebesar 44,29 %. Pada Tiang 2 berjumlah 3 tegakan dengan diamter
17,52 cm dan INP sebesar 47,19. Pada Tiang 3 berjumlah 2 tegakan dengan
diameter 12,74 cm dan INP sebesar 32,42 %. Pada Tiang 4 berjumlah 2 tegakan
dengan diameter 14,33 cm dan INP sebesar 33,87 %. Dengan demikian nilai INP
yang tertinggi pada tingkat tiang terdapat pada tiang 2 dengan INP sebesar 47,19 %.
Berdasarkan
hasil pengamatan vegetasi pohon pada plot 5 m x 5 m terdapat 9 vegetasi pancang
dan 4 jenis pancang. Pada pancang 1 berjumlah 2 tegakan dengan diameter 6,37 cm
dan INP sebesar 30,02 %. Pada Pancang 2 berjumlah 2 tegakan dengan diamter 7,96
cm dan INP sebesar 32,02 %. Pada Pancang 3 berjumlah 4 tegakan dengan diamter
4,78 cm dan INP sebesar 50,05 %. Pada Pancang 4 berjumlah hanya 1 tegakan
dengan diamter 9,55 dan INP sebesar 23,01 %. Dengan demikian nilai INP
tertinggi pada tingkat pancang terdapat
pada pancang 3 dengan INP sebesar 50,05 %.
Berdasarkan
hasil pengamatan vegetasi pohon pada plot ukuran 2 m x 2 m terdapat 11 vegetasi
semai dan 4 jenis semai. Pada semai 1 berjumlah 2 vegetasi dengan INP sebesar
19,76 %. Pada semai 2 berjumlah 3 vegetasi dengan INP sebesar 29,65 %. Pada
semai 3 berjumlah 4 vegetasi dengan INP sebesar 39,53 %. Pada semai 4 berjumlah
2 vegetasi dengan INP sebesar 19,76 %.
Berdasarkan
hasil perhitungan dan pemngamatan dapat diperoleh hasil INP pada masing-masing
vegetasi yang ada di hutan produksi desa Labuan Kungum sebagai berikut :
Tabel
6. Indeks Nilai Penting pada tingkat pohon, tiang, pancang, semai di hutan
produksi desa Labuan Kunguma.
|
No
|
Nama Jenis
|
Jumlah Jenis
|
Diamater (cm)
|
INP (%)
|
|
1
|
Pohon 2
|
3
|
30,25
|
52,98
|
|
2
|
Tiang 2
|
3
|
17,52
|
47,19
|
|
3
|
Pancang 3
|
4
|
4,78
|
50,05
|
|
4
|
Semai 3
|
4
|
-
|
39,53
|
Berdasarkan
hasil pengamatan yang dilakukan untuk mengetahui nilai potensi tegakan vegetasi
yang ada di hutan produksi desa Labuan Kunguma diperoleh indeks nilai penting
pada tingkat pohon terdapat pada jenis pohon 2 sebesar 52,98 %, pada tingkat
tiang terdapat pada jenis tiang 2 sebesar 47,19%, pada tingkat pancang terdapat
pada jenis pancang 3 sebesar 50,05 %, dan pada tingkat semai terdapat pada
jenis semai 3 sebesar 39,53 %.
Pembahasan
ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen
penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik antara lain suhu,
air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk
hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga
berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu
populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu
sistem yang menunjukkan kesatuan.
V.
KESIMPULAN
DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan
hasil dan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1)
Data yang telah diperoleh dari kegiatan pengukuran
dilapangan kemudian diolah dengan menggunakan formulasi metode garis berpetak
untuk menghitung besarnya kerapatan, frekuensi dan dominasi dan Indeks Nilai
Penting (INP) dari masing-masing jenis vegetasi.
2)
Nilai Indeks Nilai
Penting (INP) pada tingakat pohon yaitu pada jenis 2 sebesar 52,98 %,
3)
Nilai Indeks Nilai
Penting (INP) pada tingakat tiang yaitu pada jenis 2 sebesar 47,19 %,
4)
Nilai Indeks Nilai
Penting (INP) pada tingakat pancang yaitu pada jenis 3 sebesar 50,05 %,
5)
Nilai Indeks Nilai
Penting (INP) pada tingakat semai yaitu pada jenis 3 sebesar 39,53 %,
5.2 Saran
Pada praktikum
berikutnya diharapkan waktu praktek lebih intensif lagi agar hasil data yang
didapatkan pun dapat lebih maksimal, dan agar mahasiswa lebih paham dalam
melakukan pengukuran khususnya besarnya
nilai INP dalam suatu jenis tegakan.
Pada praktikum
berikutnya juga diharapkan para praktikan agar lebih menaati prosedur
praktikum, agar para praktikan yang lainnya lebih fokus dan teliti dalam
melakukan praktikum tanpa ada gangguan dari para praktikan yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
Bakri.
2009. Bahan Kuliah Ekologi Hutan. Jurusan
Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Pontianak.
Latifah,
Siti. 2005. Analisis Vegetasi Hutan Alam.
Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian
Soemarwoto,
Otto. 1997. Ekologi, Lingkungan Hidup dan
Pembangunan Edisi Revisi. Penerbit Djambatan. Jakarta.
No comments:
Post a Comment