Saturday, May 9, 2015

PORAN LENGKAP PRAKTIKUM EKOLOGI HUTAN 2015

I.                  PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Hutan adalah kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan
Ekologi hutan adalah cabang dari ekologi yang khusus mempelajari ekosistem hutan. Hutan dipandang sebagai suatu ekosistem karena hubungan antara masyarakat tumbuh-tumbuhan pembentuk hutan dengan binatang liar dan alam lingkungannya sangat erat. Hutan dipandang sebagai suatu ekosistem adalah sangat tepat, mengingat hutan itu dibentuk atau disusun oleh banyak komponen yang masing-masing komponen tidak bisa berdiri sendiri, tidak bisa dipisah-pisahkan, bahkan saling memengaruhi dan saling bergantung.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktora biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Kecamatan Labuan sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Donggala yang memiliki berbagai sumber daya alam yang besar salah satunya berupa tegakan pohon penghasiln kayu. Berdasarkan sumber daya alam yang ada, setiap sumber daya alam di tiap-tiap daerah memiliki potensi nilai yang berbeda untuk mengelolah sumber daya alam di tiap daerah.
Dalam rangka mengetahui nilai sumber daya alam di daerah, maka sangatlah tepat untuk melakukan identifikasi indeks nilai sumber daya alam di daerah Labuan. Studi ini dilakukan untuk mengetahui dan memahami potensi suatu tegakan hutan di desa Labuan Kunguma
1.2  Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum yang di lakukan di desa Labuan Kunguma tentang Ekologi Hutan adalah agar mahasiswa dapat mengetahui cara mengukur atau menaksir potensi dari suatu tegakan hutan meliputi Kerapatan Relatif, Frekuensi Relatif, Dominasi Relatif, dan Indeksi Nilai Peting dalam setiap vegetasi.
Kegunaan yang diharapkan dari praktikum ini adalah agar mahasiswa dapat menambah wawasan sekaligus memahami tata cara pembuatan petak ukur, penentuan arah jalur, penentuan jarak antar jalur dan pengukuran parameter pohon dalam hal pengelolaan sumber daya hutan.



II.               TINJAUAN PUSTAKA
2.1  Pengertian Ekologi Hutan
Ekologi hutan adalah cabang ekologi yang khusus mempelajari masyarakat atau ekosistem hutan. Hutan dapat dipelajaridari segi autekologi dan synekologi. Autekologi mempelajari ekologi suatu jenis pohon atau pengaruh sesuatu faktor lingkungan terhadap hidup atau tumuhnya satu atau lebih jenis-jenis pohon. Sifat penyelidikanya mendekati fisiologi tumbuh-tumbuhan. Synekologi mempelajari hutan sebagai masyarakat atau ekositem misalnya penelitian tentang pengaruh keadaan tempat tmbuh terhadap komposisi dan produksi hutan. (Soemarwoto, Otto. 1997)
Ekologi adalah ilmu yang mempelajari interaksi antara organisme dengan lingkungannya dan yang lainnya. Berasal dari kata Yunani oikos ("habitat") dan logos ("ilmu"). Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari baik interaksi antar makhluk hidup maupun interaksi antara makhluk hidup dan lingkungannya. Dalam ekologi, kita mempelajari makhluk hidup sebagai kesatuan atau sistem dengan lingkungannya.
2.2  Kaitan Ekologi dan Ekosistem
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
Ekologi, biologi dan ilmu kehidupan lainnya saling melengkapi dengan zoologi dan botani yang menggambarkan hal bahwa ekologi mencoba memperkirakan, dan ekonomi energi yang menggambarkan kebanyakan rantai makanan manusia dan tingkat tropik.
Ekowilayah bumi dan riset perubahan iklim ialah dua wilayah di mana ekologi (orang yang mempelajari ekologi) kini berfokus. Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi.
Kedua komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Misalnya, pada suatu ekosistem akuarium, ekosistem ini terdiri dari ikan, tumbuhan air, plankton yang terapung di air sebagai komponen biotik, sedangkan yang termasuk komponen abiotik adalah air, pasir, batu, mineral dan oksigen yang terlarut dalam air.
Perhitungan INP suatu tegakan yaitu dengan cara menjumlahkan nilai kerapatan relatif, nilai frekuensi relatif dan dominasi relatif, yang masing-masing nilai dinyatakaan dalam bentuk persen.
Data yang telah diperoleh dari kegiatan pengukuran dilapangan kemudian diolah dengan menggunakan formulasi metode garis berpetak untuk menghitung besarnya kerapatan ( individu/ha), frekuensi dan dominasi ( m2/ha ) dan indeks nilai penting (INP) dari masing-masing jenis.
2.3   Analisis Vegetasi Hutan
Analisis vegetasi hutan merupakan studi untuk mengetahui komposisi dan struktur hutan. Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam metode dengan petak dan tanpa petak. Salah satu metode dengan petak yang banyak digunakan adalah kombinasi antara metode jalur (untuk risalah pohon) dengan metode garis petak (untuk risalah permudaan) (Latifah, 2005).
Hal  yang  demikian  itu menyebabkan  kelimpahan  relatif  suatu  spesies  dapat mempengaruhi  fungsi  suatu  komunitas,  distribusi  individu  antarspesies  dalam komunitas,  bahkan  dapat  memberikan  pengaruh  pada  keseimbangan  sistem  dan akhirnya akan berpengaruh pada stabilitas komunitas (Bakri, 2009).
Struktur komunitas  tumbuhan memiliki sifat kualitatif dan kuantitatif.  Dengan  demikian,  dalam  deskripsi  struktur  komunitas tumbuhan  dapat  dilakukan  secara  kualitatif  dengan  parameter  kualitatif  atau  secara kuantitatif dengan parameter kuantitatif. Namun persoalan yang sangat penting dalam analisis komunitas adalah bagaimana cara mendapatkan data terutama data kuantitatif dari  semua  spesies  tumbuhan  yang menyusun  komunitas,  parameter  kuantitatif  dan kualitatif apa  saja yang diperlukan, penyajian data, dan  interpretasi data, agar dapat mengemukakan komposisi  floristik serta sifat-sifat komunitas  tumbuhan  secara utuh dan menyeluruh.
Dalam kegiatan-kegiatan penelitian di bidang ekologi hutan seperti halnya pada bidang-bidang ilmu lainnya yang beersangkut paut dengan sumber daya alam dikenal dua jenis/tipe pengukuran untuk mendapatkan informasi/data yang diinginkan. Kedua jenis pengukuran tersebut adalah pengukuran yang bersifat merusak (destruktive measure) dan pengukuran yang tidak merusak (non destructive measure). Untuk keperluan penelitian agar hasil datanya dapat dianggap sah (valid) secara statistika, penggunaan kedua jenis pengukuran tersebut mutlak harus menggunakan satuan contoh (sampling unit), apabila bagi seorang peneliti yang mengambil objek hutan dengan cakupan areal yang luas. Dengan sampling seorang peneliti/surveyor dapat memperoleh informasi/data yang diinginkan lebih cepat dan lebih teliti dengan biaya dan tenaga lebih sedikit bila dibandingkan dengan inventarisasi penuh (metode sensus) pada anggota suatu populasi (Latifah, 2005)




III.           METODE PRAKTEK
3.1  Waktu dan Tempat.
Waktu pelaksanaan praktikum ini pada hari Minggu, 26 April 2015 pada pukul 09.00 sampai selesai. Berlokasi di desa Labuan Kunguma, Kecamatan Labuan, Kabupaten Donggala, Propinsi Sulawesi Tengah, Palu.

3.2  Alat dan Bahan
      Alat yang di gunakan pada praktikum Ekologi Hutan ini, yaitu:
1.      Meteran Roll
2.      Pita Ukur
3.      Alat tulis menulis.
4.      Kalkulator
5.      Kamera
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah sebagai berikut :
1.      Tali rafia
2.      Tally Sheet
3.      Patok kayu

3.3  Cara Kerja
Pertama-tama memilih lokasi. Kemudian membuat plot dan membagi menjadi  4 plot  dengan  luasan  20 m x 20 m untuk pohon, selanjutnya membuat sub plot dengan luasan 10 m x 10 m untuk tiang, 5 m x 5 m untuk pancang, dan 2 m x 2 m untuk semai. Setelah itu mengindentifikasi Tegakan, mengukur keliling pohon, menghitung diameter pohon dan luas bidang dasar.
3.4  Penentuan Plot
Untuk mengetahui jenis vegetasi tingkat pohon, tiang, pancang dan semai plot pengamatan diletakan di lokasi praktikum di hutan rakyat Desa Labuan Kungguma dengan menggunakan metode petak ganda, jumlah petak pengamatan sebanyak 4 plot, karena tidak menutup kemungkinan di mana akan ditemukan jenis vegetasi.           
                                                                            
                                    b


b
b
                          
                      c

c
                                                                                        a
                                        
d

                                        
                                                       
                                                          Gambar:  Plot pengamatan
Keterangan :
a.  Plot pengamatan tingkat pohon (20 mx20 m)
b.  Plot pengamatan tingkat tiang ( 10 mx10 m)
c.  Plot pengamatan tingkat pancang ( 5 mx5 m)
d.  Plot pengamata tingkat semai ( 2mx2 m)         

3.5  Analisis Data
Berdasarkan data lapangan yang telah dikumpulkan, maka dilakukan perhitungan Indeks Nilai Penting ( INP ) dengan rumus sebagai berikut :
a)      Kerapatan (K)                    = Jumlah Individu Suatu Jenis                           
                                                   Luas Seluruh Petak Contoh

                                            
b)      Kerapatan relatif (KR)        =   Kerapatan Suatu Jenis   x 100 %    
                                                   Kerapatan Seluruh Jenis

c)      Frekuensi (F)                      = Jumlah petak contoh di temukan suatu jenis
                                                            Jumlah seluruh petak contoh

d)      Frekuensi Relatif (FR)         =            Frekuensi Suatu Jenis                  x 100 %
                                             Jumlah Seluruh Frekuensi Suatu Jenis
                                          
e)      Luas Bidang datar               = ¼ .π. d2 

f)        Dominasi (D)                      = Luas Bidang Datar Suatu Jenis
                                                     Luas Seluruh Petak Contoh

g)      Dominasi Relatif (DR)        =  Dominasi Suatu Jenis  x 100 %
   Dominasi Seluruh Jenis

Dimana :    Untuk tingkat pohon dan tiang, INP = KR+ FR+DR
Untuk pancang dan semai INP = KR + FR
Keterangan :
INP      = Indeks Nilai Penting
KR       = Kerapatan Relatif
FR       =  Frekuensi Relatif
DR       = Dominasi Relatif



IV.            HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Hasil
Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, maka diperoleh hasil perhitungan parameter pohon hutan produksi Desa  labuan kunguma petak ukur (plot) dengan ukuran 20 m x 20 m seperti yang disajikan dalam tabel berikut ini.

Tabel 1. Komposisi jenis vegetasi di Hutan Produksi desa Labuan Kunguma.

No
Nama Jenis Vegetasi
Pohon
Tiang
Pancang
Semai
Jumlah
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
Pohon 1
Pohon 2
Pohon 3
Tiang 1
Tiang 2
Tiang 3
Tiang 4
Pancang 1
Pancang 2
Pancang 3
Pancang 4
Semai 1
Semai 2
Semai 3
Semai 4
ü   
ü   
ü   



ü   
ü   
ü   
ü   







ü   
ü   
ü   
ü   











ü   
ü   
ü   
ü   
1
3
2
3
3
2
2
2
2
4
1
2
3
4
2

TOTAL




36


Tabel 2. Kerapatan Relatif, Frekuensi Relatif, Dominansi Relatif, serta  INP Vegetasi  pada tingkat Pohon di Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma.


            Pada tabel 1 terlihat bahwa jenis vegetasi untuk tingkat pohon di Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah Pohon 2 dengan nilai INP sebesar = 52,98 %
Tabel 3. Kerapatan Relatif, Frekuensi Relatif, Dominansi Relatif, serta  INP Vegetasi pada tingkat Tiang di Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma.

            Pada tabel 2 terlihat bahwa jenis vegetasi untuk tingkat tiang di Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah Tiang 2 dengan nilai INP sebesar = 47,19 %

Tabel 4.  Kerapatan Relatif, Frekuensi Relatif, serta INP Vegetasi  pada tingkat Pancang di Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma.

            Pada tabel 3 terlihat bahwa jenis vegetasi untuk tingkat pancang di Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah Pancang 3  dengan nilai INP sebesar = 50,05 %

Tabel 5. Kerapatan Relatif (KR), Frekuensi Relatif (FR), serta INP Vegetasi  pada tingkat Semai di Hutan Produksi Desa Labuan Kunguma.

No
Nama Jenis
Jumlah Jenis
K
Kr %
F
Fr %
INP
1
Semai 1
2
50
8,00
0,5
11,76
19,76
2
Semai 2
3
75
12,00
0,75
17,65
29,65
3
Semai 3
4
100
16,00
1
23,53
39,53
4
Semai 4
2
50
8,00
0,5
11,76
19,76
            Pada tabel 4 terlihat bahwa jenis vegetasi untuk tingkat semai di hutan produksi Desa Labuan Kungguma yang memiliki Indeks Nilai Penting (INP) tertinggi adalah Semai 3  dengan nilai INP sebesar = 39,53 %.

4.2  Pembahasan
Mempelajari ekologi hutan merupakan kegiatan manusia secara menyeluruh dengan tujuan mengarahkan atau memelihara ekosistem hutan dalam keadaan yang memungkinkan untuk selalu bisa dijadikan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan manusia sepanjang masa. Mengingat hutan merupakan suatu ekosistem, dan setiap ekosistem apa pun dibentuk oleh banyak komponen baik komponen hayati maupun komponen nonhayati, maka semua informasi tentang masing masing komponen sangat penting, dan untuk itu diperlukan bidang ilmu yang relevan terhadap kajian komponen ekosistem.
Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam metode dengan petak dan tanpa petak. Salah satu metode dengan petak yang banyak digunakan adalah kombinasi antara metode jalur (untuk risalah pohon) dengan metode garis petak (untuk risalah permudaan)
Kawasan hutan Desa labuan kunguma merupakan kawasan hutan alam yang wilayahnya cukup luas, oleh karena itu diperlukan suatu pengukuran indeks nilai penting ( INP ) dalam hal ini pada tegakan pohon dengan plot seluas 400 m2Pada kawasan hutan desa Labuan kunguma, khususnya yang terdapat  pada plot kelompok kami, terdapat 36 vegetasi dan 16 jenis vegetasi masing-masing terdiri dari 3 jenis pohon, 4 jenis tiang, 4 jenis pancang, dan 4 jenis semai.
Berdasarkan hasil pengamatan vegetasi pohon pada plot 20 m x 20 m terdapat 6 vegetasi pohon dan 3 jenis pohon. Pada pohon 1 berjumlah hanya 1 tegakan dengan diameter 33,44 cm dan INP sebesar 31,49 %. Pada pohon 2 berjumlah 3 tegakan dengan diameter 30,25 cm dan INP sebesar 52,98 %. Pada pohon 3 berjumlah 2 tegakan dengan diameter 25,48 cm dan INP sebesar 38,47 %. Dengan demikian nilai INP yang tertinggi untuk tingkat pohon terdapat pada pohon 2 dengan INP sebesar 52,98 %.
Berdasarkan hasil pengamatan vegetasi pohon pada plot 10 m x 10 m terdapat 10 vegetasi tiang dan 4 jenis tiang. Pada Tiang 1 berjumlah 3 tegakan dengan diameter 14,33 cm dan INP sebesar 44,29 %. Pada Tiang 2 berjumlah 3 tegakan dengan diamter 17,52 cm dan INP sebesar 47,19. Pada Tiang 3 berjumlah 2 tegakan dengan diameter 12,74 cm dan INP sebesar 32,42 %. Pada Tiang 4 berjumlah 2 tegakan dengan diameter 14,33 cm dan INP sebesar 33,87 %. Dengan demikian nilai INP yang tertinggi pada tingkat tiang terdapat pada tiang 2 dengan  INP sebesar 47,19 %.
Berdasarkan hasil pengamatan vegetasi pohon pada plot 5 m x 5 m terdapat 9 vegetasi pancang dan 4 jenis pancang. Pada pancang 1 berjumlah 2 tegakan dengan diameter 6,37 cm dan INP sebesar 30,02 %. Pada Pancang 2 berjumlah 2 tegakan dengan diamter 7,96 cm dan INP sebesar 32,02 %. Pada Pancang 3 berjumlah 4 tegakan dengan diamter 4,78 cm dan INP sebesar 50,05 %. Pada Pancang 4 berjumlah hanya 1 tegakan dengan diamter 9,55 dan INP sebesar 23,01 %. Dengan demikian nilai INP tertinggi pada tingkat pancang terdapat  pada pancang 3 dengan INP sebesar 50,05 %.
Berdasarkan hasil pengamatan vegetasi pohon pada plot ukuran 2 m x 2 m terdapat 11 vegetasi semai dan 4 jenis semai. Pada semai 1 berjumlah 2 vegetasi dengan INP sebesar 19,76 %. Pada semai 2 berjumlah 3 vegetasi dengan INP sebesar 29,65 %. Pada semai 3 berjumlah 4 vegetasi dengan INP sebesar 39,53 %. Pada semai 4 berjumlah 2 vegetasi dengan INP sebesar 19,76 %.
Berdasarkan hasil perhitungan dan pemngamatan dapat diperoleh hasil INP pada masing-masing vegetasi yang ada di hutan produksi desa Labuan Kungum sebagai berikut :
Tabel 6. Indeks Nilai Penting pada tingkat pohon, tiang, pancang, semai di hutan produksi desa Labuan Kunguma.

No
Nama Jenis
Jumlah Jenis
Diamater (cm)
INP (%)
1
Pohon 2
3
30,25
52,98
2
Tiang 2
3
17,52
47,19
3
Pancang 3
4
4,78
50,05
4
Semai 3
4
-
39,53

Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan untuk mengetahui nilai potensi tegakan vegetasi yang ada di hutan produksi desa Labuan Kunguma diperoleh indeks nilai penting pada tingkat pohon terdapat pada jenis pohon 2 sebesar 52,98 %, pada tingkat tiang terdapat pada jenis tiang 2 sebesar 47,19%, pada tingkat pancang terdapat pada jenis pancang 3 sebesar 50,05 %, dan pada tingkat semai terdapat pada jenis semai 3 sebesar 39,53 %.
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor biotik antara lain suhu, air, kelembapan, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling mempengaruhi dan merupakan suatu sistem yang menunjukkan kesatuan.
V.               KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan diatas maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1)      Data yang telah diperoleh dari kegiatan pengukuran dilapangan kemudian diolah dengan menggunakan formulasi metode garis berpetak untuk menghitung besarnya kerapatan, frekuensi dan dominasi dan Indeks Nilai Penting (INP) dari masing-masing jenis vegetasi.
2)      Nilai  Indeks Nilai Penting (INP) pada tingakat pohon yaitu pada jenis 2 sebesar 52,98 %,
3)      Nilai  Indeks Nilai Penting (INP) pada tingakat tiang yaitu pada jenis 2 sebesar 47,19 %,
4)      Nilai  Indeks Nilai Penting (INP) pada tingakat pancang yaitu pada jenis 3 sebesar 50,05 %,
5)      Nilai  Indeks Nilai Penting (INP) pada tingakat semai yaitu pada jenis 3 sebesar 39,53 %,

5.2  Saran
Pada praktikum berikutnya diharapkan waktu praktek lebih intensif lagi agar hasil data yang didapatkan pun dapat lebih maksimal, dan agar mahasiswa lebih paham dalam melakukan pengukuran khususnya  besarnya nilai INP dalam suatu jenis tegakan.
Pada praktikum berikutnya juga diharapkan para praktikan agar lebih menaati prosedur praktikum, agar para praktikan yang lainnya lebih fokus dan teliti dalam melakukan praktikum tanpa ada gangguan dari para praktikan yang lainnya.



DAFTAR PUSTAKA
Bakri. 2009. Bahan Kuliah Ekologi Hutan. Jurusan Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Pontianak.
Latifah, Siti. 2005. Analisis Vegetasi Hutan Alam. Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian
Soemarwoto, Otto. 1997. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan Edisi Revisi. Penerbit Djambatan. Jakarta.


No comments: