I. PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Silvikultur merupakan cara-cara
permudaan hutan secara alami dan buatan, serta pemeliharaan tegakan sepanjang
hidupnya. Termasuk kedalam silvikultur ialah pengertian tentang persyratan tapak atau tempat tumbuh pohon perilakunya
terhadap berbagai intensitas cahaya matahari, kemampuannya untuk tumbuh secara
murni atau campuran, dan hal-hal lain yang mempengaruhi pertumbuhan pohon. Jadi
sangatlah penting untuk mengetahui silvikultur masing-masing jenis pohon,
sebelum kita dapat mengelolah suatu hutan dengan baik.
Silvikultur dapat dianalogikan
dengan ilmu agronomi dan holtikultura di pertanian, karena silvikultur dapat
juga membicarakan cara-cara membudidayakan tumbuhan, dalam hal pohon-pohon
hutan. Dalam pengertian lebih luas, silvikultur dapat disebut ilmu pembinaan
hutan, dengan ruang lingkup dari pembijian, persemaian, penanaman lapangan,
pemeliharaan hutan, dan cara-cara permudaannya.
Tanaman akasia mangium (Acacia mangium Willd) atau juga dikenal
dengan akasia daun lebar termasuk jenis legum yang cepat tumbuh dan tidak
memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi. Akasia mangium merupakan tanaman
asli yang tumbuh di Papua Nugini, Papua Barat dan Maluku, selanjutnya
berkembang di Malaysia Barat dan Malaysia Timur (Sabah dan Serawak), serta
Philipina. Di Indonesia berkembang sejalan dengan pembangunan Hutan Tanaman
Industri (HTI) tahun 1984. Tanaman akasia mangium menjadi salah satu jenis
favorit tanaman di HTI, khususnya dalam memenuhi kebutuhan kayu serat terutama
sebagai bahan baku industri pulp dan kertas.
Persyaratan tempat tumbuh akasia
mangium tidak mempersyaratkan tempat tumbuh yang khusus, dengan kata lain dapat
tumbuh pada lahan miskin dan tidak subur, seperti pada lahan yang mengalami
erosi, berbatu dan tanah alluvial serta tanah yang memiliki pH rendah 4,2.
Secara umum dapat tumbuh pada ketinggian antara 30 - 130 meter dpl, dengan
curah hujan bervariasi antara 1.000 mm - 4.500 mm setiap tahun. Seperti jenis
pionir yang cepat tumbuh dan berdaun lebar, jenis ini sangat membutuhkan sinar
matahari, dengan demikian apabila terdapat naungan akan tumbuh kurang sempurna dengan
bentuk tinggi dan kurus.
Tanaman akasia mangium setelah
mencapai umur tujuh sampai delapan tahun dapat menghasilkan kayu yang baik
untuk dibuat untuk papan partikel. Faktor lain yang mendorong pengembangan
jenis ini adalah sifat pertumbuhannya yang cepat tumbuh (fast growing species)
yang mempunyai batas lingkaran tumbuh yang jelas pada bagian terasnya dengan
lebar 1–2 cm. Hal ini mungkin disebabkan oleh pertumbuhannya yang cepat serta
adanya kayu muda.
1.2
Tujuan dan Kegunaan
Tujuan praktikum ini adalah untuk
mengetahui tehnik persemaian Mangium dilapangan, mengaplikasikan materi yang
didapat di kelas.
Kegunaan praktikum adalah sebagai
bahan informasi dan merupakan bahan perbandingan antara materi kuliah dan
praktikum yang dilakukan di lapangan, sekaligus lebih menambah wawasan dan
pengetahuan mahasisiwa.
II.
TINJAUAN
PUSTAKA
2.1
Tanaman
Akasia Mangium.
Tanaman
akasia mangium (Acacia mangium Willd)
atau juga dikenal dengan akasia daun lebar termasuk jenis legum yang cepat
tumbuh dan tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi. Akasia mangium
merupakan tanaman asli yang tumbuh di Papua Nugini, Papua Barat dan Maluku,
selanjutnya berkembang di Malaysia Barat dan Malaysia Timur (Sabah dan
Serawak), serta Philipina. Di Indonesia berkembang sejalan dengan pembangunan
Hutan Tanaman Industri (HTI) tahun 1984. Tanaman akasia mangium menjadi salah
satu jenis favorit tanaman di HTI, khususnya dalam memenuhi kebutuhan kayu
serat terutama sebagai bahan baku industri pulp dan kertas (Animous,2013). Klasifikasi
tumbuhan akasia mangium (Acacia mangium
Willd) sebagai berikut :
Kingdom : Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super
Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan
biji)
Divisi : Magnoliophyta (Tumbuhan
berbunga)
Kelas : Magnoliopsida (berkeping dua /
dikotil)
Sub
Kelas : Rosidae
Ordo : Fabales
Famili : Fabaceae (suku polong-polongan)
Genus : Acacia
Spesies : Acacia mangium Willd.
Menurut para ahli botani bahwa
tanaman akasia mangium (Acacia mangium Willd)
berasal dari australia.akasia dapat menyebar keseluruh penjuru dunia dengan
cepat karena tanaman akasia dapat hidup dengan mudah dan cepat tanpa memiliki
syarat yang sulit. ia dapat hidup dilahan miskin dan tidak subur, lahan yang
memiliki ph rendah (4,2) sepanjang berada pada ketinggian tidak lebih dari 300
mm, dengan curah hujan 1.000 mm-4.500 mm setiap tahunnya dengan cahaya matahari
yang cukup.
2.2
Morfologi
Tanaman Akasia Mangium.
Tanaman akasia mangium (Acacia mangium Willd) memiliki tinggi pohon
sampai 30 m, boleh sering lurus, untuk lebih dari setengah total tinggi pohon.
Branchlets, phyllodes dan tangkai gundul atau sedikit yg berlapis ketombe.
bercabang banyak (simpodial) Phyllodes 5-10 cm luas, 2-4 kali lebih lama
sebagai luas, hijau tua, ketika chartaceous kering. The phyllodes memiliki (3 –
4) saraf utama memanjang yang bergabung pada margin dorsal di dasar phyllode,
saraf sekunder halus dan tidak mencolok. Bunga di paku longgar untuk 10 cm
panjang, soliter atau berpasangan dalam axils atas. Bunga pentamerous, kelopak
0,6-0,8 mm panjang, dengan lobus tumpul pendek, corolla dua kali lebih lama
tampuk. Pods linear, gundul, 3-5 mm luas, ca 7,5 cm panjang ketika hijau, kayu,
digulung dan payau-coklat ketika dewasa, depresi antara biji. Biji berkilau,
hitam, ellipsoid, ovate atau lonjong, 3,5 x 2,5 mm, funicle orangish membentuk
aril berdaging bawah benih.
Tumbuhan akasia mangium (Acacia
mangium Willd) termasuk tumbuhan dikotil yang berakar tunggang berwarna
putih kotor dan bercabang (ramosus). Akar tunggang berbentuk kerucut panjang,
tumbuh lurus kebawah, akarnya bercabang banyak sehingga dapat memberi kekuatan
lebih besar kepada batang dan juga zat-zat makanan yang diperoleh lebih banyak
Sehingga dapat tumbuh subur dan pesat.
Tumbuhan akasia mangium (Acacia mangium Willd) termasuk dalam
jenis tanaman kuncup keatas (gemma terminalis), batangnya bersifat berkayu
(lignosus) dan termasuk tumbuhan semak, bentuk batangnya bulat (teres), sifat
permukaan batang kasar, tipe arah tumbuh batang tegak lurus (erectus), tipe
arah tumbuh batang condong keatas (patens), panjang umur tumbuhan termasuk
tanaman tahunan/tanaman keras (perrenis), bercabang bayak (simpodial).
Tumbuhan akasia mangium (Acacia mangium Willd) memiliki daun
majemuk menyirip, Bangun daun: lancet
(lanceolatus), Ujung daun:runcing (acutas), Pangkal daun:runcing (acutus), Tipe
pertulangan daun:melengkung (cervinervis), Tepi daun : rata (integer), Sifat
daging daun : seperti kertas (papyraceus), Sifat permukaan helaian daun : licin
(laevis), daunya ini biasanya mempunyai bantalan tanin dalam jumlah besar.
tanin memiliki rasa yang pahit sehingga dapat menigkatkan atau memperkecil
protein dengan cepat. tanin dapat menyebabkan perasaan kering pada mulut.
Tumbuhan akasia mangium (Acacia mangium Willd) memiliki bunga
majemuk tak terbatas, Tipe untai atau bunga lada (amentum), Setiap 1 bunga satu
receptakulum, letak bunga di ketiak daun (flos lateralis atau flos axilaris),
menurut jenis kelamin bunga ini termasuk bunga banci karna pada bunga terdapat
benang sari dan putik, bunga ini dapat dikatakan bunga lengkap atau bunga
sempurna, bunga ini bersimetri banyak,yang berwarna putih kekuning-kuningan.
Bunga di paku longgar untuk 10 cm panjang, soliter atau berpasangan dalam axils
atas. bunganya berganda dan memiliki warna putih atau kekuningan, panjangnya
mencapai 10 cm dan bentuknya tunggal atau berpasangan di sudut daun pucuk.
Tanaman buah akasia sejenis
polong-polongan berwarna hijau saat masih muda dan berubah menjadi coklat
setelah tua melingkar ketika masak, agak keras, panjang 7-8 cm, lebar 3-5
mm,Biji berkilau, hitam, ellipsoid, ovate atau lonjong, 3,5 x 2,5 mm, funicle
orangish membentuk aril berdaging bawah benih, Benih hitam mengkilat, lonjong,
3-5 x 2-3 mm, dengan ari (funicle ) kuning cerah atau oranye yang terkait di
benih.
2.3
Perkecambahan
Tanaman Akasia Mangium
Perkecambahan adalah munculnya
plantula (tanaman kecil) dari dalam biji yang merupakan hasil pertumbuhan dan
perkembangan embrio. Pada perkembangan embrio saat berkecambah, bagian plumula
tumbuh dan berkembang menjadi batang, sedangkan radikula menjadi akar.
Metabolisme
Perkecambahan sebagai berikut :
a) Tahap
Pertama : dimulai dengan proses penyerapan air oleh benih, melunaknya kulit
benih dan hidrasi protoplasma.
b) Tahap
kedua : dimulai dengan kegiatan enzim dan sel serta naiknya tingkat respirasi
benih.
c) Tahap
ketiga : terjadi penguraian bahan-bahan seperti karbohidrat, lemak, dan protein
menjadi bentuk-bentuk yang terlarut dan di translokasikan ke titik tumbuh.
d) Tahap
keempat : asimilasi dari bahan-bahan yang telah diuraikan tadi di daerah
meristematik untuk menghasilkan energy bagi kegiatan pembentukan komponen dan
pertumbuhan sel-sel baru.
e) Tahap
kelima : pertumbuhan dari kecambah melalui proses pembelahan, pembesaran, dan
pembagian sel-sel pada titik-titik tumbuh.
Faktor-faktor
yang mempengaruhi perkecambahan sebagai berikut :
1. Faktor
Dalam
a) Persediaan
Makanan Dalam Biji
Fungsi
utama cadangan makanan dalam biji adalah member makanan kepada embrio maupun
tanaman yang masih mudad sebelum tanaman tersebut mampu memproduksi zat makanan
sendiri. (Ashari, 1995)
b) Hormon
Memberikan
kemampuan dinding sel untuk mengembang sehingga sifatnya menjadi elastic.
Elastisitas dinding sel memungkinkan dinding sel bersifat permeable sehingga
mempermudah imbibisi. (Ashari, 1995)
c) Ukuran
dan kekerasan biji
Semakin
besar dan semakin keras bijinya maka air akan sulit untuk masuk ke dalam biji
sehingga imbibisi teerhambat. (Ashari, 1995)
d) Dormansi
Dormansi
adalah suatu keadaan pertumbuhan yang tertunda atau keadaan istirahat. Setiap
benih tanaman memiliki masa dormansi yang berbeda-beda.(Gardnnes, 1991)
2. Faktor
Luar
1) Air
Berfungsi
sebagai pelunak kulit bji, melarutkan cadangan makanan, sarana transportasi
serta bersama hormone mengatur elurgansi (pemanjangan) dan pengembangan sel.
2) Temperature
Benih
dapat berkecambah pada temperature optimum yaitu 80oF sampai 95oF
(20,5o C sampai 35o C).
3) Oksigen
Proses
respirasi akan meningkat disertai pula dengan menigkatnya pengambilan oksigen
dan pelepasan karbon dioksida, air, dan energy yang berupa panas. Terbatasnya
oksigen akan menghambat perkecambahan benih. Benih yang dikecambahkan pada
keadaan yang sangat kurang cahaya ataupun gelap akan menghasilkan kecambah yang
mengalami etiolasi.
4) Medium
Medium
yang baik untuk perkecambahan benih adalah mempunyai sifat fisik yang baik,
gembur, mempunyai kemampuan menyimpan air, dan bebas dari pengganggu terutama cendawan.
III. METODE PRAKTEK
3.1
Waktu danTempat
Praktikum
ini dilaksanakan pada hari Kamis, 27 November 2014, mulai pukul 14.30 WITA
hingga selesai. Bertempat di Persemaian Permanen BPDAS Palu-Poso, Universitas Tadulako,
Palu
3.2
Bahan dan Alat
Alat
yang digunakan dalam praktikum ini sebagai berikut :
1. Mika
berukuran besar
2. Tempat
sabun sedang
3. Alat
tulis menulis
Bahan
yang digunakan dalam praktikum ini sebagai berikut :
1. Benih
Mangium
2. Tanah
Humus
3. Pasir
halus
4. Serbuk
gergaji
5. Sekap
padi
3.3
Cara
Kerja
Langkah-langkah
kerja meliputi :
1. Melakukan
pelakuan terhadap benih dengan memakai metode remdaman air dingin dan air
panas.
2. Mengambil
Benih lalu dituangkan ke dalam wadah.
3. Memanaskan
air hingga mengeluarkan gelembung (mendidih).
4. Kemudian
masukkan air panas kedalam wadah yang berisi benih selama 3 menit.
5. Kemudian
tiriskan benih hingga airnya habis dan pindahkan benih ke dalam wadah yang
bersih.
6. Lalu
masukkan air dingin pada benih yang sudah direndam dengan air panas selama 3
menit.
7. Siapkan
Mika berukuran besar dengan diisi tanah humus dan serbuk gergaji dengan perbandingan
2:1
8. Taburkan
benih yang sudah direndam di atas mika, kemudian tutup kembali dengan tanah.
9. Kemudian
disimpan pada green house dan lakukan penyiraman beberapa hari.
10. Amatilah
dan catat perkembangan benih selama 14 hari.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Hasil
dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
Tabel
1. Hasil rata-rata perkembangan benih akasia mangium ( Acacia mangium Willd).
Hari
|
Berkecambah
|
Tinggi
kecambah
|
Daun
per-kecambah
|
Minggu,
30/11/2014
|
4
hingga 5 berkecambah
|
3
cm
|
2
helai
|
Rabu,
3/12/2014
|
7
hingga 15 berkecambah
|
3
hingga 4 cm
|
2
hingga 4 helai
|
Sabtu,
6/12/2014
|
16
hingga 23 berkecambah
|
3
hingga 5 cm
|
4
hingga 6 helai
|
Kamis,
11/12/2014
|
24
hingga 30 berkecambah
|
4
hingga 6 cm
|
8
hingga 16 helai
|
4.2
Pembahasan
Benih
memiliki tipe perkecambahan yang berbeda-beda. Terdapat dua tipe perkecambahan
yaitu epigeal dan hypogeal. Pada tanaman dikotil kebanyakan memiliki tipe
perkecambahan epigeal sedangkan tanaman monokotil mempunyai tipe perkecambahan
hypogeal.
Berdasarkan
pengamatan tanaman akasia mangium (Acacia
mangium willd) termasuk tanaman yang cepat tumbuh dan tidak memerlukan
persyaratan tumbuh yang tinggi. Tanaman akasia mangium termasuk berbiji dikotil
dan tipe berkecambahan epigeal.
Tanaman
akasia mangium tidak mempersyaratkan tumbuh ditempat yang khusus, dengan kata
lain dapat tumbuh pada lahan miskin dan tidak subur, seperti pada lahan yang
mengalami erosi, berbatu dan tanah alluvial serta tanah yang memiliki pH rendah
4,2 dan tanaman jenis ini sangat membutuhkan sinar matahari.
Berdasarkan
pengamatan dihari dihari pertama, sebagian benih mulai mengeluarkan radikula
yang memanjang ke dalam tanah dan sebagian benih belum berkecambah.
Dalam
pengamatan di hari ketiga, benih yang berkecambah mulai memunculkan helai
daunya setelah terjadinya pemanjangan hipokotil secara keseluruhan dan membawah
serta kotiledon dan plumula keatas permukaan tanah. Sebagian benih yang lain
masih dalam proses keluarnya radikula.
Dalam
pengamatan hari kedelapan, benih yang berkecambah tumbuh dan berkembang mengeluarkan beberapa daun. Dan
benih yang lain mengeluarkan helai daun dan melepaskan kotiledon. Rata-rata
tinggi hipokotil benih berkisar 3 hingga 4,5 cm.
Berdasarkan
pengamatan di hari akhir, benih sudah mengalami pertumbuhan dan perkembangan
dengan hipokotil yang terus tumbuh dan jumlah daun bertambah. Sebagian benih
yang lain masih dalam memperpanjang hipokotil dan mengeluarkan helain daun.
Perbedaan
tinggi dan jumlah daun disebakan karena faktor dalam dan luar. Faktor dalam
seperti hormon ditiap benih berbeda maksudnya kemampuan dinding sel untuk
mengembang sehigga sifatnya elastik dan memungkinkan dinding sel bersifat
permeable yang dapat mempermudah imbisisnya. Faktor luarnya adalah kebutuhan
air yang berfungsi melanukkan kulit benih dan melarutkan cadangan makanan
sebagai transpotasi serta membantu hormon mengatur pemanjangan dan pengembangan
sel.
V. PENUTUP
5.1
Kesimpulan
Tanaman akasia mangium (Acacia mangium Willd) termasuk tanaman
yang cepat tumbuh dan tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang tinggi. Termasuk
tanaman berdaun lebar dan tanaman
berbiji dikotil.
Tanaman
akasia mangium (Acacia mangium Willd)tidak
mempersyaratkan tumbuh ditempat yang khusus, dengan kata lain dapat tumbuh pada
lahan miskin dan tidak subur, seperti pada lahan yang mengalami erosi, berbatu
dan tanah alluvial serta tanah yang memiliki pH rendah 4,2 dan tanaman jenis
ini sangat membutuhkan sinar matahari.
Tanaman
akasia mangium (Acacia mangium Willd)
termasuk tanaman yang cepat tumbuh dan tidak memerlukan persyaratan tumbuh yang
tinggi. Tanaman akasia mangium termasuk berbiji dikotil dan tipe berkecambahan
epigeal.
Perbedaan
tinggi dan jumlah daun disebakan karena faktor dalam dan luar. Faktor dalam
seperti hormon ditiap benih berbeda maksudnya kemampuan dinding sel untuk mengembang
sehigga sifatnya elastik dan memungkinkan dinding sel bersifat permeable yang
dapat mempermudah imbisisnya. Faktor luarnya adalah kebutuhan air yang
berfungsi melanukkan kulit benih dan melarutkan cadangan makanan sebagai
transpotasi serta membantu hormon mengatur pemanjangan dan pengembangan sel.
5.2 Saran
Melalui praktikum ini disarankan
kepada mahasiswa untuk menguasai terlebih dahulu materi yang diberikan dikelas.
Kepada asisten untuk lebih lagi mendampingi mahasiswa dalam melakukan praktikum
agar mahasiswa tidak melakukan kesalahan dalam praktikum.
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Silvikultur
merupakan cara-cara mempermudaan hutan secara alami dan buatan, serta
pemeliharaan tegakan sepanjang hidupnya. Termasuk kedalam sivikultur ialah
pengetian tentang persyaratan tapak atau tempat tumbuh pohon perilakunnya
terhadap berbagai intensitas cahaya matahari, kemampuannya untuk tumbuh secara
murni atau campuran, dan hal-hal lain yang mempengaruhi pertumbuhan pohon. Jadi
sangatlah penting untuk mengetahui silvikultur masing-masing jenis pohon, sebelum
kita dapat mengelolah suatu hutan dengan baik.
Persemaian
adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih (atau bahan lain dari
tanaman) menjadi bibit/semai yang siap ditanam di lapangan. Kegiatan di
persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman hutan
karena itu sangat penting dan merupakan kunci pertama di dalam upaya mencapai
keberhasilan penanaman hutan. Penanaman
benih ke lapangan dapat dilakukan secara langsung dan secara tidak langsung
yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian.
Teknik
penyemaian secara langsung juga dapat memanfaatan cabutan anakan alam
(wildling). Benih yang jatuh di lantai hutan mudah berkecambah dan dapat dimanfaatkan
untuk pembuatan bibit. Pencabutan sebaiknya setelah turunhujan dengan cara
mencabut bagian leher akar untuk menghindari kerusakan daerahperakaran. Pada
lokasi persemaian yang tergolong jauh sebaiknya
memprakondisikanwildling/cabutan di bungkus dalam karung basah atau pelepah
pisang serta dapatmenggunakan ice box. Tujuannya adalah menjaga kesegaran
cabutan dan menjagakelembapan selama pengangkutan dan kalau perlu di siram
selama 4-6 jam sekalidengan air bersih. Cabutan di bentuk dengan memotong 2/3
daun, untuk mengurangipenguapan daun akar yang terlalu panjang di bentuk untuk
memudahkan penyemaiandi kantong plastik.
Media
tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam yang
akan digunakan harus disesuaikan dengan jenis tanaman yang ingin ditanam.
Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda
habitat asalnya merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan setiap daerah
memiliki kelembapan dan kecepatan angin yang berbeda. Secara umum, media tanam
harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara,
dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.
Penggunaan
bahan organik sebagai media tanam jauh lebih unggul dibandingkan dengan bahan
anorganik. Hal itu dikarenakan bahan organik sudah mampu menyediakan
unsur-unsur hara bagi tanaman. Selain itu, bahan organik juga memiliki
pori-pori makro dan mikro yang hampir seimbang sehingga sirkulasi udara yang
dihasilkan cukup baik serta memiliki daya serap air yang tinggi.
1.2 Tujuan dan Manfaat
Tujuan dari praktikum ini adalah
untuk mengamati dan mempelajari pengelolaan persemaian, mengamati kegiatan
oprasional di persemaian serta mempelajari proses pembibitansuatu jenis
tanaman.
Manfaat dari praktikum ini mengenai
persemaian/pembibitan adalah untuk mengetahui cara-cara pembibitan/persemaian
yang baik sekaligus dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pengetahuan
untuk pembudidayaan para rimbawan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Pengertian
Persemaian.
Persemaian
adalah suatu tempat yang digunakan untuk menyemaikan benih suatu jenis tanaman
dengan perlakuan dan perawatan selama jangka waktu tertentu, sehingga akan
dihasilkan bibit yang berkualitas baik, yang memenuhi persyaratan umur, ukuran
dan pertumbuhan yang cukup baik dan siap untuk ditanam di lapangan. Bibit yang
dihasilkan dapat berupa bibit dalam kontainer, putaran, cabutan atau stump (
Animous,2014).
2.2
Kegiatan
– Kegiatan Persemaian.
Kegiatan
di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dan kegiatan penanaman hutan.
Oleh karena itu kegiatan di persemaian adalah termasuk kegiatanyang sangat
penting karena dapat merupakan kunci pertama di dalam upaya
mencapaikeberhasilan penanaman hutan (Edris, 2001).
Kegiatan – kegiatan yang dilakukan di persemaian
permanen sebagai berikut :
1.
Pemilihan Lokasi Persemaian
Lokasi
persemaian hendaknya tidak jauh dari permukiman untuk memudahkan mengontrol, merawat, mendapatkan tenaga kerja
dan menghindari adanya kerusakan dari gangguan ternak, binatang liar dan
kerusakan alam seperti kekeringan. Lapangan yang dipilih relative datar, tidak
tergenang air atau drainase baik, dekat dengan sumber air, dan sedapat mungkin
tidak jauh dari jalan angkutan bibit (Sukandi et al. 2002).
2.
Pembuatan Bedeng Semai dan Media Semai
Bedeng
semai biasanya digunakan untuk mengecambahkan benih-benih yang berukuran kecil dengan perawatan intensif. Ukuran
bedeng semai/sapih beragam umumnya berukuran 5×1 m, letak membujur kearah Utara
–Selatan, dan pinggirannya diperkuat dengan bamboo atau kayu. Atap bedeng
tingginya 1 m dibuat dari daun nipah, daun kelapa, alang-alang atau sarlon,
dimana bagian menghadap ke Timur di buat lebih tinggi daripada yang menghadap ke
barat (Sukandi, et al. 2002).
Polybag
yang mempunyai bahan dasar plastik dapat merusak lingkungan tanah. Polybag
memerlukan waktu yang sangat lama untuk dapat didegradasi oleh mikroorganisme
di dalam tanah. Meskipun polybag dapat digunakan sebagai media tanam untuk
tanaman, saat ini penggunaan polybag sangatlah tidak ramah lingkungan. Hal ini
dikarenakan bahan dasar polybag ini terbuat oleh polyethylene, yaitu molekul
polimer yang sangat panjang dan besar serta terikat dengan sangat kuat sehingga
sulit dipisahkan atau diasimilasi oleh bakteri dekomposer (Marzoeki 1995).
Penggunaan
polybag sebagai wadah bibit sudah banyak dilakukan dan merupakan wadah yang
paling umum digunakan oleh produsen bibit maupun oleh peneliti, karena harganya
murah dan mudah diperoleh. Ukuran polybag yang digunakan dapat disesuaikan
dengan kebutuhan / sesuai umur tanaman / bibit. Kaitannya dengan penelitian
ini, ternyata polybag memberikan pertumbuhan yang lebih baik bagi bibit
tanaman, mungkin disebabkan pertumbuhan akar yang ada dalam polybag lebih leluasa berkembang ( Rostiwati et al,
2007).
Ukuran
polybag bermacam – macam disesuaikan dengan jenis dan umur tanaman. Keuntungan
penggunaan polybag antara lain komposisi media dapt diatur, efesien dalam
penyiraman dan pemupukan, tanaman dapat berpindah – pindah, pertumbuhan gulma
dapat dikendalikan dan tidak memerlukan lahan yang luas, serta nutrisi yang
diberikan dapat diserap oleh akar secara optimal. Penentuan ukuran polybag yang
cocok untuk pertumbuhan tanaman diharapkan dapat meningkatkan produktivitas
tanaman dan efisiensi dalam penggunaan media dan nutrisi.
Media
untuk persemaian harus mempunyai aerasi baik, subur dan gembur, misalnya
campuran pasir, pupuk kandang dan sekam yang sudah disterilkan dengan
perbandingan 1:1:1. Dengan media yang gembur, maka akar akan tumbuh lurus dan
memudahkan pemindahan bibit ke polybag pembesaran. Biji yang akan disemaikan
ditabur merata di atas media, lalu ditutup lagi dengan media setebal 1-2 cm dan
disiram dengan gembor sampai basah (Nurwardani, 2008).
3.
Pematahan Dormansi & Penaburan Benih
Benih
yang bermutu baik diantaranya adalah yang cepat berkecambah setelah ditaburkan dan berdaya tumbuh tinggi. Hal
ini akan menetukan persen tumbuh anakan di lapangan. Untuk mengatasi dormansi
dan mempercepat proses perkecamabahan benih dapat dibantu dengan beberapa
perlakuan pendahuluan yaitu secara
mekanis ( direndam dalam air panas atau dingin, dipukul, dikikir, diamplas atau
dibakar), kimiawi (direndam dalam larutan kimia tertentu), atau penggunaan
sinar radio aktif (Sukandi et al. 2002).
Pemecahan
dormansi dan penciptaan lingkungan yang cocok sangat perlu untuk memenuhi
proses perkecambahan. Benih yang mempunyai kulit biji tidak permeable dapat
dirangsang dengan mengubah kulit biji untuk membuat permeable terhadap gas–gas
dan air (Lita Sutopo, 1985). Perkecambahan benih dipengaruhi oleh dua faktor
(S. Sadjad, 1980) yaitu faktor dari dalam (faktor genetik) berupa tingkat
pemasakan benih dan kulit benih dari luar (faktor lingkungan) yaitu pengaruh
suhu, cahaya, air dan media tumbuh.
Dormansi
dapat disebabkan oleh berbagi faktor antara lain impermeabilitas kulit biji
baik terhadap air atau gas ataupun karena resistensi kulit biji terhadap
pengaruh mekanis, embrio rudimenter, dormasi sekunder dan bahan – bahan
penghambat perkecambahan. Tetapi dengan perlakuan khusus maka benih dorman
dapat dirangsang untuk berkecambah (Lita Sutopo, 2002). Benih dikatakan dorman
apabila benih tersebut sebenarnya hidup tetapi tidak berkecambah waalaupun
diletakkan pada keadaan yang secara umum dinggap telah memenuhi persyaratan
bagi suatu perkecambahan. (Sutopo, 1984)
III. METODE PRAKTEK
3.1
Waktu
dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada
hari Jumat, 5 November 2014, mulai pukul 14.30 WITA hingga selesai. Bertempat
di Persemaian Permanen BPDAS Palu-Poso, Universitas Tadulako, Palu
3.2
Bahan
dan Alat
Bahan yang digunakan dalam pengamatan ini sebagai
berikut :
1.
Bibit yang ada dilokasi persemaian.
Alat yang digunakan
dalam pengamatan ini sebagai berikut :
1.
Alat tulis menulis.
2.
Kamera.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1
Hasil
Gambar
1. Bedengan tabur
Bedengan mahoni
|
Bedengan termbesi
|
Bedengan termbesi
|
Tabel
2. Hasil Pengamatan dan Wawancara.
NO
|
JENIS TANAMAN
|
ASAL BENIH
|
PERLAKUAN BENIH
|
1
|
JATI SUPER
|
GENERATIVE
|
Perendaman
|
2
|
KEMIRI
|
GENERATIVE
|
Dikeringkan dan direndam
|
3
|
TERMBESI
|
GENERATIVE
|
Perendaman
|
4
|
DURIAN
|
GENERATIVE
|
Perendaman
|
5
|
NANGKA
|
GENERATIVE
|
Perendaman
|
6
|
RAMBUTAN
|
GENERATIVE
|
Perendaman
|
7
|
PALAPI
|
GENERATIVE
|
Perendaman
|
8
|
NANTU
|
GENERATIVE
|
Perendaman
|
12
|
EBONI
|
GENERATIVE
|
Perendaman
|
4.2
Pembahasan
Berdasarkan
hasil wawancara, Waktu penyapihan sebaiknya dilakukan sore hari, dan setelah
disapih segara dilakukan penyiraman sampai tanahnya cukup basah. Setelah itu
ada setiap bedengan sapih dipasang label yang bertuliskan : Nomor bedengan
sapihan, species/jenis,asal bedengan penaburan. Kecambah (semai anakan) siap
disapih tergantung, jenisnya biasanya sesudah keluar daun pertama sudah dapat
dilakukan penyapihan. Pada umumnya, setelah bibit / semai sapihan berupa 3-4
minggu sejak disapih, kerapatan atap/naungan mulai dikurangi dan setelah berumur
8-10 minggu sebelum semai dipindahkn / ditanam ke lapangan, atap/naungan
tanaman sama sekali ditiadakan.
Hal-hal
yang perlu diperhatikan dalam penyapihan adalah: Akar tidak boleh terlipat. Semai harus berdiri
tegak lurus. Semai yang telah diambil dari bak tidak boleh terlalu lama
dipegang, supaya tidak luka terhadap semai yang masih kecil. Penyiraman harus
hati-hati (pancaran air halus). Pemeliharaan Bibit Di Bedeng Sapih Bedeng sapih
atau di sebut juga bedeng pertumbuhan dibuat berupa segi empat dengan ukuran 1 x
5 m dan sekelilingnya di perkuat dengan kayu, bata atau bahan lainnya yang
kuat. Bedeng sapih di beri naungan yang tembus cahaya 50%. Luas bedeng sapih
menunjukkan kapasitas bibit di persemaian.
Berdasarkan
hasil wawancara dari pengamataan media sepih, adalah tanah yang di isi dalam
polybag yang kemudan ditempatkan dalam bedeng sepih menurut jenis
tanamannya.ukuran polybag yang kemudian
ditempatkan dalam bedeng bedeng sapih menurut jenis tanamannya. Ukuran ploybag
yang di gunakan adaah 10 x 12, jumlah polybag dalam setiap bedeng yaitu, antara
1000-3000 polybag.
Penaburan
benih dilakukan secara merata menurut larikan/jalur-jalur atau lubang- lubang
yang telah dibuat, kemudian ditutup dengan pasir atau tanah halus setebal 0,5-1
cm/ setebal benih. Secara garis besar penaburan dapat dilakukan tiga cara (1)
satu persatu (drill sowing), (2) bentk garis/baris (line sowing), dan (3)
menabur mereta (dust sowing). Cara pelaksanaan penyiapan lahan digolongkan
menjadi 3 cara, yaitu cara mekanik, semi mekanik dan manual. Jenis kegiatannya
terbagi menjadi dua tahap ; Pembersihan lahan, yaitu berupa kegiatan penebasan
terhadap semak belukar dan padang rumput. Selanjutnya ditumpuk pada tempat
tertentu agar tidak mengganggu ruang tumbuh tanaman. Pengolahan tanah,
dimaksudkan untuk memperbaiki struktur tanah dengan cara mencanggkul atau membajak
(sesuai dengan kebutuhan).
Berdasarkan
hasil wawancara perlakuan benih disemaikan , sebaiknya dilakukan tretment guna
membangun percekembahan benih tersebut, yaitu : benih direndam dalam air panas
mendidih ( 80 C ) selama 15-30 menit. Setelah itu, benih direndam kembali dalam
air dingin sekitar 24 jam, lalu ditiriskan. Untuk selanjutnya benih siap untuk
disemaikan.
Teknik
pelaksanaan, persemai dibuat dari bahan kayu dengan atap jaringan dengan ukuran
bak tabur 5 x 1 m ukuran tinggi naungan depan 75 cm belakang 50 cm. Kemudian
bedeng tabur di isi dengan media tabur setebal 10 cm , usahakan agar media
tabur ini bebas dari kotoran/sampah untuk menghindari timbulnya penyakit pada
kecambah. Penaburan benih pada media tabur dilakukan setelah benih mendapat
perlakuan guna mempercepat proses berkecambah dan memperoleh proses berkecambah yang
dimaksimal. Penaburaan dilakukan pada waktu pagi hari atau sore hari untuk menghindari terjadinya penguaan
yang berlebihan. Penaburan ini ditempatkan pada larikan yang sudah dibuat
sebelumnya, ukuran larikan tabur ini berjara 5 cm antar larikan dengan
kedalaman kira –kira 2,0 cm. Usahakan banih tidak saling tumpang tindih agar
pertumbuhan kecembah tidak bertumpuk. Setelah kecambah tidak bertumpuk. Setelah
berkecambahan berumur 7-10 hari maka kecambah siap untuk dilakukan penyapihan.
Waktu
perkecembahan berbeda beda tergantung dengan bibit tanaman tersebut ada yang 2
minggu setelah persemaian dan ada pula satu bulan setelah persemaian contohnya
tanaman jati, mahoni, dan palapi.
Berdasarkan hasil wawancara, setiap
tanah memiliki waktu berbeda-beda sebelum siap dipindahkan dari media sapih
untuk siap ditanam, waktu yang dibutuhkan
antaralain 2,3,4-6 bulan sebelum siap untuk dipindahkan dan siap tanam.
Media
tanam dapat berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan. Mulai dari daya
intermolekul, tekstur media tersebut dan lain-lain. Apabila media tanam
memiliki daya intermolekul yang kecil maka kecepatan perkecambahan juga akan
lambat dikarenakan biji sulit dalam menyerap air. Sedangkan, dilihat dari
tekstur, apabila media tanam memiliki tekstur pasir atau kasar, maka akar akan
sulit mendapatkan air dikarenakan tekstur pasir mudah mengalami kekeringan.
Sedangkan, tekstur serat atau halus membuat akar mudah mendapatkan air karena
kelembaban akan terjadi dalam jangka waktu lama.
Penyiram
dilakukan 1 kali sehari, pada sore hari, pemupukan dilakukan sekali sebulan
sebanyak 2 sloki, dengan menggunakan pupuk organik maupun nonorganik.
Penyiangan gulma dilakukan tak menentu, hanya jika gulma mulai tumbuh maka
dilakukan penyiangan, pemberantasan hama dan penyakit pada bibit dilakuakan
dengan hama kimia zat pengatur tumbuh tanaman.
V. PENUTUP
5.1
Kesimpulan.
Penyulaman
tanaman yaitu penggantian tanaman yang mati atau sakit dengan tanaman yang
baik, penyulaman pertama dilakukan sekitar 2-4 minggu setelah tanam, penyulaman
kedua dilakukan pada waktu pemeliharaan tahun pertama (sebelum tanaman berumur
1 tahun). Agar pertumbuhan bibit sulaman tidak tertinggal dengan tanaman lain,
maka dipilih bibit yang baik disertai pemeliharaan yang intensif.
Perlakuan
benih disemaikan , sebaiknya dilakukan tretment guna membangun percekembahan
benih tersebut, yaitu : benih direndam dalam air panas mendidih ( 80o
C ) selama 15-30 menit. Setelah itu, benih direndam kembali dalam air dingin
sekitar 24 jam, lalu ditiriskan. Untuk selanjutnya benih siap untuk disemaikan.
Pembibitan
tanaman hutan diperlukan untuk kegiatan penanaman. Penerapan teknik pembibitan
yang tepat dan penggunaan materi dangan kualitas genetik yang baik merupakan
awal dari pembangunan hutan tanaman yang memiliki kualitas tegakan yang baik
dengan produktivitas yang tinggi.
Waktu
perkecembahan berbeda beda tergantung dengan bibit tanaman tersebut ada yang 2
minggu setelah persemaian dan ada pula satu bulan setelah persemaian contohnya
tanaman jati, mahoni, dan palapi.
Media
tanam dapat berpengaruh terhadap kecepatan perkecambahan biji Kacang Hijau.
Mulai dari daya intermolekul, tekstur media tersebut dan lain-lain. Apabila
media tanam memiliki daya intermolekul yang kecil maka kecepatan perkecambahan
juga akan lambat dikarenakan biji sulit dalam menyerap air.
5.2
Saran
Melalui praktikum ini disarankan
kepada mahasiswa untuk menguasai terlebih dahulu materi yang diberikan dikelas.
Kepada asisten untuk lebih lagi mendampingi mahasiswa dalam melakukan praktikum
agar mahasiswa tidak melakukan kesalahan dalam praktikum.
DAFTAR PUSTAKA
Anonimous 2013. http://www.chachubbygirl.blogspot.com/Tipe Perkecambahan. Diakses pada 18 Desember 2014.
Ashari,
Sumaru.1995. Hortikultura Aspek Budidaya.
UI Press ; Jakarta
Edris, I. 1998. Teknik Persemaian. Yayasan Pembinana Fakultas Kehutanan. Universitas
Gajah Mada. Yogyakarta
Gradness. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. UI Press;
Jakarta
Nurwardani, P. 2008. Teknik pembibitan Tanaman dan Produksi Benih.
Direktorat Pendidikan Nasional. Jakarta.
Soetopo, Lita. 2002.
Teknologi Benih. Rajawali Press; Jakarta
Sukandi T, Sumarhani, Murniati. 2002.
Informasi Teknis Pola Wanantani. Pusat Litbang Hutan dan Konservasi Alam Badan
Litbang Kehutanan. Bogor.
No comments:
Post a Comment