TEKNOLOGI
HASIL HUTAN
PENGAWETAN
PADA KAYU JABON

Oleh :
Kelompok
7
![]() |
JURUSAN
KEHUTANAN
FAKULTAS
KEHUTANAN
2014
A. Kayu
Jabon.
Kayu Jabon (Neolamarckia cadamba) dimasukkan
ke dalam kelas awet V, demikian juga berdasarkan percobaan kuburan jenis kayu
ini termasuk kelas awet V. Daya tahannya terhadap kayu kering termasuk kelas
II. Sedangkan daya tahannya terhadap jamu pelapuk kayu termasuk kelas
IV-V. Keterawetan kayu Jabon termasuk
kelas sedang. Ciri - ciri Kayu Jabon antara lain ; kayu berwarna putih
semu-semu kuning muda, kuning terang, kuning semu-semu gading. Kesan raba Permukaan kayu licin atau agak
licin. Permukaan kayu jelas mengkilap atau agak mengkilap (redup). Tekstur kayu
bagus (agak halus sampai agak kasar), arah serat lurus, kadang-kadang agak berpadu,
menghasilkan permukaan kayu yang halus. Kayu tidak berbau. Mata kayu sedikit
karena percabangan kurang (batangnya bebas cabang sampai 60%). Mudah
dikeringkan, mudah dipotong dan diketam, mudah dipaku, dibor dan dilem.Penyusutan
kayu rendah, Penyusutan radial 0,8% dan penyusutan tangensial 2,1%.
Kayunya tidak bobok oleh serangga,
sehingga sangat mungkin dimanfaatkan oleh industri kayu.
Kegunaan Kayu Jabon
·
Kayu jabon dapat dibuat sebagai bahan
bangunan non-konstruksi, mebeler,
·
Papan, Cetakan beton, Alas sepatu.
·
Dapat di gunanan sebagai kontruk darurat
ringan yang bersifat sementara (jangka waktu pendek) mengingat kayu jabon
termasuk kelas awet IV-V yang tidak tahan terlalu lama apalagi bila di luar
ruangan (kayu jabon tidak cocok untuk kontruksi bangunan permanen).
·
Cocok untuk bahan baku kertas (pulp)
serat pendek yang memproduksi kertas kualitas sedang, dikarenakan
mempunyaisifat kimia yaitu memiliki kandungan selulosa cukup tinggi ± 52.4% dan
panjang serat 1.979.
·
Bahan untuk membuat batang korek api,
Slet (pinsil), sumpit sebab kayu jabon ringan, serat lebih halus sehingga mudah
pengejaan sewaktu di olah menggunakan mesin atau sewaktu masuk kemesin
pengolahan.
·
Sebagai bahan kerajinan tangan berupa
hiasan atau mainan karena sifat kayu yang lunak, serat lebih halus hingga mudah
dalam pengerjaaan.
·
Sebagai Peti pembungkus, peti kemas atau
paking box, karena mempunyai keteguhan gesek, keteguhan pukul dan cukup ringan.
·
Sebagai veneer atau bahan baku kayu
lapis (plywood / tripleks) karena memiliki serat yang harus, berat kayu
tergolong ringan, pada umumya bentuk batang silindris sehinnga tidak bayak
bahan yang terbuang sewaktu masuk mesin rotary (pengupasan) dan mempunyai
tingkat keuletan sehigga veneer yang di hasilkan tidak mudah robek atau patah
mengingat panjang serat cukup tinggi. Perekatan venir kayu jabon dengan urea
formal dehide menghasilkan kayu lapis yang memenuhi persyaratan standar
Indonesia, Jepang dan Jerman. seperti yang di gunakan oleh perusahaan plywood
di kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
B. Pengawetan
kayu jabon.
Bagian
penting untuk menjaga kualitas kayu jabon adalah pengolahan. Prinsip dasar
pengelolahan kayu jabon ada tiga macam, yaitu pengeringan, pengawetan, dan
beragam pemanfaatan.
Pengeringan kayu adalah
proses penurunan kadar air kayu sampai mencapai kadar air lingkungan tertentu
atau kadar air yang sesuai dengan kondisi udara di mana kayu tersebut
ditempatkan . Pengeringan kayu dibagi menjadi dua kelompok, yang meliputi
pengeningan secara alami (natural drying) dan pengeringan secara buatan
(artificial drying). Pengeringan alami adalah suatu metode pengeringan dimana
unsur unsur alam mernegang peranan yang penting. Unsur unsur tersebut meliputi
panas yang berasal darl matahari, peredaran udara karena adanya hembusan angin,
dan kelembaban relatif udara yang ada. Pengeringan buatan adalah suatu metode
pengeringan dimana unsur unsur yang berupa hasil budidaya manusia memegang
peranan yang terbesar dalam proses pengeringan yang bersangkutan (Yudodibroto,
1982).
Pengeringan kayu dilakukan karena
penggunaan. Kayu secara komersial selalu menghendaki pengurangan kadar air yang
terdapat di dalam kayu, sedangkan tinggi rendahnya kadar air atau tujuan kadar
air tergantung dengan penggunaan kayu tersebut, umur pakai dan kekuatan kayu
akan bertambah bila kayu dikeringkan terlebih dahulu, bahkan bila kadar air
kayu dibawah 20%, mikrobia pembusuk dan penyebab noda akan sulit hidup pada
kayu tersebut. Untuk kayu bangunan pada umumnya pengeringan kayu cukup hanya
sampai kering udara saja dengan kadar air 12 19% untuk perkakas interior
seperti meubel dan barang kerajinan yang memerlukan kadar air rendah dari
kering udara, pengeringan secara alarni efektif untuk mengeringkan kayu sampai
kadar air kering udara untuk kayu perkakas interior harus dikeringkan dengan
menggunakan tanur pengering.
Pada umumnya dalam
penggunaannya, kayu harus dikeringkan terlebih dahulu. Alasan dilakukannya
pengeringan kayu antara lain :
1) Penyusutan
pada produk yang menggunakan kayu yang dikeringkan akan berkurang, pembengkokan
dan belah ujung dapat dihindarkan
2) Kayu
terlindung dari serangan jamur pembusuk dan jamur pewarna, sehingga kayu akan
lebih awet. Tingginya temperatur pada pengeringan tanur membunuh jamur dan
insekta yang hidup dalam kayu
3) Pengeringan
pada kayu menghasilkan kekuatan pada kayu yang lebih tinggi, dengan asumsi
tidak terjadi cacat khususnya belah ujung. Selain itu, kuat pegang paku
terhadap kayu akan semakin meningkat.
4) Meningkatkan
kualitas hasil pengecatan dan proses pengerjaan akhir.
5) Berat
kayu berkurang sehingga biaya transportasi bisa lebih rendah.
Cara Pengawetan pada
kayu jabon
a. Pengeringan
1. Alami
Umumnya, kayu jabon
sangat mudah diserang oleh jamur blue
stain. Oleh karena itu, kayu jabon harus segera dikerjakan atau diberi
perlakuan pengeringan dalam waktu 48 jam di udara terbuka atau Pengeringan
dibawah sinar matahari langsung. Kayu jabon termasuk jenis kayu yang mudah
dikeringkan dan dikerjakan, tetapi dengan sedikit cacat berupa pecah dan retak
ujung serta sedikit mencekung. Dengan pengeringan alami, untuk menurunkan kadar
air kayu dari 82% menjadi 14% kayu dengan ketebalan papan 2,5 cm membutuhkan 38
hari.
Cara lain, metode
pengasapan yang ramah lingkungan. Caranya, kayu dimasukkan dalam ruangan tertutup
yang dialiri asap sisa pembakaran arang
selama 1 – 3 minggu. ‘Asap mengandung fenol yang mampu mengawetkan kayu. Cara
ini meningkatkan kualitas kayu, satu – dua kelas lebih tinggi,’ kata ahli kimia
kayu dari Jurusan Teknologi Hasil Hutan,
Fakultas Kehutanan IPB,
2. Buatan
pengeringan yang
dilakukan di dalam dapur pengering dianjurkan mengatur suhunya pada 57-76,5oC
dengan kelembapan nisbi 70-30%. Hasil pengujian sifat pemesinan menunjukan
bahwa kayu jabon akan memberikan hasil yang terbaik saat di bentuk, dibuat
lubang persegi, dan diamplas. Sementara akan memberikan hasil yang sedang bila diserut, dibor, atau dibubut.
b. Kimia
Proses
lain dengan pengawetan kayu jabon secara kimia dengan mereaksikan acetic
anhydride (CH3CO)2O pada selulosa kayu. Teknologi ini ramah lingkungan karena
pascareaksi, (CH3CO)2O akan terikat oleh selulosa dan tak akan luntur jika kayu
dipegang atau tercuci oleh air.

No comments:
Post a Comment