Tuesday, April 14, 2015

MAKALAH TEKNOLOGI HASIL HUTAN PENGAWETAN PADA KAYU JABON

TEKNOLOGI HASIL HUTAN
PENGAWETAN PADA KAYU JABON


Description: C:\Users\ALDI SAPUTRA&WAHYUNI\Documents\LOGO BARU.png


Oleh :
Kelompok 7
 
















JURUSAN KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN

2014

A.     Kayu Jabon.
Kayu Jabon (Neolamarckia cadamba) dimasukkan ke dalam kelas awet V, demikian juga berdasarkan percobaan kuburan jenis kayu ini termasuk kelas awet V. Daya tahannya terhadap kayu kering termasuk kelas II. Sedangkan daya tahannya terhadap jamu pelapuk kayu termasuk kelas IV-V.  Keterawetan kayu Jabon termasuk kelas sedang. Ciri - ciri Kayu Jabon antara lain ; kayu berwarna putih semu-semu kuning muda, kuning terang, kuning semu-semu gading.  Kesan raba Permukaan kayu licin atau agak licin. Permukaan kayu jelas mengkilap atau agak mengkilap (redup). Tekstur kayu bagus (agak halus sampai agak kasar), arah serat lurus, kadang-kadang agak berpadu, menghasilkan permukaan kayu yang halus. Kayu tidak berbau. Mata kayu sedikit karena percabangan kurang (batangnya bebas cabang sampai 60%). Mudah dikeringkan, mudah dipotong dan diketam, mudah dipaku, dibor dan dilem.Penyusutan kayu rendah, Penyusutan radial 0,8% dan penyusutan tangensial 2,1%.
Kayunya tidak bobok oleh serangga, sehingga sangat mungkin dimanfaatkan oleh industri kayu.
Kegunaan Kayu Jabon
·        Kayu jabon dapat dibuat sebagai bahan bangunan non-konstruksi, mebeler,
·        Papan, Cetakan beton, Alas sepatu.
·        Dapat di gunanan sebagai kontruk darurat ringan yang bersifat sementara (jangka waktu pendek) mengingat kayu jabon termasuk kelas awet IV-V yang tidak tahan terlalu lama apalagi bila di luar ruangan (kayu jabon tidak cocok untuk kontruksi bangunan permanen).
·        Cocok untuk bahan baku kertas (pulp) serat pendek yang memproduksi kertas kualitas sedang, dikarenakan mempunyaisifat kimia yaitu memiliki kandungan selulosa cukup tinggi ± 52.4% dan panjang serat 1.979.
·        Bahan untuk membuat batang korek api, Slet (pinsil), sumpit sebab kayu jabon ringan, serat lebih halus sehingga mudah pengejaan sewaktu di olah menggunakan mesin atau sewaktu masuk kemesin pengolahan.
·        Sebagai bahan kerajinan tangan berupa hiasan atau mainan karena sifat kayu yang lunak, serat lebih halus hingga mudah dalam pengerjaaan.
·        Sebagai Peti pembungkus, peti kemas atau paking box, karena mempunyai keteguhan gesek, keteguhan pukul dan cukup ringan.
·        Sebagai veneer atau bahan baku kayu lapis (plywood / tripleks) karena memiliki serat yang harus, berat kayu tergolong ringan, pada umumya bentuk batang silindris sehinnga tidak bayak bahan yang terbuang sewaktu masuk mesin rotary (pengupasan) dan mempunyai tingkat keuletan sehigga veneer yang di hasilkan tidak mudah robek atau patah mengingat panjang serat cukup tinggi. Perekatan venir kayu jabon dengan urea formal dehide menghasilkan kayu lapis yang memenuhi persyaratan standar Indonesia, Jepang dan Jerman. seperti yang di gunakan oleh perusahaan plywood di kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

B.     Pengawetan kayu jabon.
Bagian penting untuk menjaga kualitas kayu jabon adalah pengolahan. Prinsip dasar pengelolahan kayu jabon ada tiga macam, yaitu pengeringan, pengawetan, dan beragam pemanfaatan.
Pengeringan kayu adalah proses penurunan kadar air kayu sampai mencapai kadar air lingkungan tertentu atau kadar air yang sesuai dengan kondisi udara di mana kayu tersebut ditempatkan . Pengeringan kayu dibagi menjadi dua kelompok, yang meliputi pengeningan secara alami (natural drying) dan pengeringan secara buatan (artificial drying). Pengeringan alami adalah suatu metode pengeringan dimana unsur unsur alam mernegang peranan yang penting. Unsur unsur tersebut meliputi panas yang berasal darl matahari, peredaran udara karena adanya hembusan angin, dan kelembaban relatif udara yang ada. Pengeringan buatan adalah suatu metode pengeringan dimana unsur unsur yang berupa hasil budidaya manusia memegang peranan yang terbesar dalam proses pengeringan yang bersangkutan (Yudodibroto, 1982).
Pengeringan kayu dilakukan karena penggunaan. Kayu secara komersial selalu menghendaki pengurangan kadar air yang terdapat di dalam kayu, sedangkan tinggi rendahnya kadar air atau tujuan kadar air tergantung dengan penggunaan kayu tersebut, umur pakai dan kekuatan kayu akan bertambah bila kayu dikeringkan terlebih dahulu, bahkan bila kadar air kayu dibawah 20%, mikrobia pembusuk dan penyebab noda akan sulit hidup pada kayu tersebut. Untuk kayu bangunan pada umumnya pengeringan kayu cukup hanya sampai kering udara saja dengan kadar air 12 19% untuk perkakas interior seperti meubel dan barang kerajinan yang memerlukan kadar air rendah dari kering udara, pengeringan secara alarni efektif untuk mengeringkan kayu sampai kadar air kering udara untuk kayu perkakas interior harus dikeringkan dengan menggunakan tanur pengering.
Pada umumnya dalam penggunaannya, kayu harus dikeringkan terlebih dahulu. Alasan dilakukannya pengeringan kayu antara lain :
1)      Penyusutan pada produk yang menggunakan kayu yang dikeringkan akan berkurang, pembengkokan dan belah ujung dapat dihindarkan
2)      Kayu terlindung dari serangan jamur pembusuk dan jamur pewarna, sehingga kayu akan lebih awet. Tingginya temperatur pada pengeringan tanur membunuh jamur dan insekta yang hidup dalam kayu
3)      Pengeringan pada kayu menghasilkan kekuatan pada kayu yang lebih tinggi, dengan asumsi tidak terjadi cacat khususnya belah ujung. Selain itu, kuat pegang paku terhadap kayu akan semakin meningkat.
4)      Meningkatkan kualitas hasil pengecatan dan proses pengerjaan akhir.
5)      Berat kayu berkurang sehingga biaya transportasi bisa lebih rendah.

Cara Pengawetan pada kayu jabon
a.       Pengeringan

1.      Alami
Umumnya, kayu jabon sangat mudah diserang oleh jamur  blue stain. Oleh karena itu, kayu jabon harus segera dikerjakan atau diberi perlakuan pengeringan dalam waktu 48 jam di udara terbuka atau Pengeringan dibawah sinar matahari langsung. Kayu jabon termasuk jenis kayu yang mudah dikeringkan dan dikerjakan, tetapi dengan sedikit cacat berupa pecah dan retak ujung serta sedikit mencekung. Dengan pengeringan alami, untuk menurunkan kadar air kayu dari 82% menjadi 14% kayu dengan ketebalan papan 2,5 cm membutuhkan 38 hari.
Cara lain, metode pengasapan yang ramah lingkungan. Caranya, kayu dimasukkan dalam ruangan tertutup yang dialiri asap sisa pembakaran  arang selama 1 – 3 minggu. ‘Asap mengandung fenol yang mampu mengawetkan kayu. Cara ini meningkatkan kualitas kayu, satu – dua kelas lebih tinggi,’ kata ahli kimia kayu dari  Jurusan Teknologi Hasil Hutan, Fakultas Kehutanan IPB,
2.      Buatan
pengeringan yang dilakukan di dalam dapur pengering dianjurkan mengatur suhunya pada 57-76,5oC dengan kelembapan nisbi 70-30%. Hasil pengujian sifat pemesinan menunjukan bahwa kayu jabon akan memberikan hasil yang terbaik saat di bentuk, dibuat lubang persegi, dan diamplas. Sementara akan memberikan hasil yang sedang  bila diserut, dibor, atau dibubut.
b.      Kimia
Proses lain dengan pengawetan kayu jabon secara kimia dengan mereaksikan acetic anhydride (CH3CO)2O pada selulosa kayu. Teknologi ini ramah lingkungan karena pascareaksi, (CH3CO)2O akan terikat oleh selulosa dan tak akan luntur jika kayu dipegang atau tercuci oleh air.



No comments: